[catatan ta'lim]Mendoakan saudara kita yang tidak ada di tempat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

catatan ta’lim jum’at 12 oktober 2012

al ustadz muhammad afifuddin

masjid abu bakr ash shiddiq jl. jojoran 1 blok k no.18-20

kitab adabul mufrad

BAB MENDOAKAN SAUDARA KITA YANG TIDAK ADA DI TEMPAT

kata saudara dalam bab ini meliputi

1. saudara senasab (se-keturunan); maupun

2. saudara seiman(saudara se-islam).

akan tetapi, yang ditekankan dalam bab ini adalah saudara pada poin ke-2 (saudara se-islam). yakni seseorang mndoakan saudaranya seiman (se-islam) ktika saudaranya tidak ada di tempat (sdang ada di tempat lain/sedang safar/tidak sedang brsama). ada apa dengan doa ini?

disebutkan bahwa doa seseorang untuk saudaranya yang tidak ada di tempat itu mustajab, terkabul. apalgi ketika dalam keadaan musafir, apalagi jika sedang ada pada tempat-tempat makbulnya doa, serta ada pada waktu-waktu makbunya doa. maka akan mustajab.

ini merupakan ksmpatan bagi orang orang yang sedang menunaikan ibadah haji. dimana mreka sekarang sedang sekarang sedang jauh dari sanak keluarga, di tempat yang sudi, di waktu yang mulia. maka lengkap sudah. apabila ia mendoakan semua pihak maka termasuk mustajab.

pengertian tidak ada di tempat bukan berarti harus berhaji dahulu baru kemudian bisa mendoakan saudaranya, namun penekanannya adalah tentang mustajabnya doa seorang musafir yang ada di tempat makbulnya doa dan waktu makbulnya doa.

hadits marfu’, abu bakr ash shiddiq radiyallohu ‘anhu pernah berkata bahwa sesungguhnya doa saudara kita karena alloh (saudara seiman) mustajab (diijabahi oleh alloh subhanahu wata’ala).

itu merupakan pernyataan abu bakr ash shiddiq dengan sanad  shahih. lafadz yang semacam itu tidak mungkin diucapkan beliau secara pribadi (bukan pendapat abu bakr ash shiddiq radiyallohu ‘anhu scra sendiri). akan tetapi, prnyataan terkait makbulnya doa dan segala macamnya pasti didapat dari Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam. maka inilah yang disebut marfu’ hukman (dihukumi sabda rasul).

kata para ulama, doa untuk saudara yang tidak di tempat menunjukkan kejujuran ukhuwah.

misalnya ketika trdapat 2 orang yang berteman, susah senang bersama, namun suatu saat mereka berpisah. maka bukti kejujuran ukhuwah yang pernah mreka jalin adalah saling mendoakan satu sama lain walau tidak saling bertemu, dan doa mreka tadi itu makbul.

oleh karena itu, ketika ketika kita memiliki banyak teman dan banyak relasi, kmudian kita saling mendoakan satu sama lain, maka betapa indahnya ukhuwah (prsaudaraan) yang terjalin tersebut.

akan tetapi, terdapat hal yang sering dilupakan. yakni, ktika saudara se-iman kita yang posisinya sdang jauh, terdengar bahwa ia sekarang sedang sedikit terpengaruh oleh penyimpang. kita mendengar bahwa ia terkena syubhat, terkena fitnah. biasanya yang dirasakan adalah langsung tahdzir. pernahkah terbetik di kepala anda bahwa ktika mndengar brita sperti itu lagsung trbetik di kepala anda untuk mendoakan taufik dan kebaikan untuknya? jawabannya, jarang terlintas. olh karena itu, perlu adanya pembenahan.

ktika mendengar bahwa saudara seiman kita, sahabat karib kita sdang terfitnah, terpengaruh oleh pnyimpangan, maka bukti kejujuran ukhuwah kita padanya adalah dengan mendoakan kebaikan untuknya.

sedangkan masalah inkarul munkar adalah perkara yang lain. tidak brarti apabila kita mendoakan kebaikan untuknya sama dengan kita tidak melakukan inkarul munkar, mndiamkan kemunkarannya. ktika ia mungkin ia telah ada pada tingkat penyimpangan yang besar, sehingga prlu dilakukan hajr, maka hajr trsebut adalah prkara yang syariy. namun, kita tetap mendoakan kebaikan untuknya.

babnya berbeda, mendoakan dan brharap kebaikan untuknya adalah prkara yang baik. inkarul munkar adalah kewajiban agama, dan hajr, pemboikotan, adalah perkara syariy. oleh karena itu harus dipilah-pilah.

sesi tanya jawab :

1. makna ghaib adalah tidak di depan kita. hal itu (mendoakan saudara kita yang jauh) adalah lambang kejujuran, karena tidak ada orangnya sehingga tidak ada upaya rekayasa(jujur).

2. semua dzikir yang diajarkan rasul menenanggkan jiwa, termasuk juga dengan tilawatil quran.

3. trkait dengan shalawat, pembahasannya lain (tidak sama dengan pmbahasan dzikir pada alloh), karena shalawat terkait dengan rasul. namun shalawat trkandung fadilah bsar, seseorang akan menjadi cinta kepada rasul, cinta kepada sunnah.

4. saat sujud dan sebelum salam, juga dianjurkan untuk brdoa. prlu diketahui, ini dilakukan dengan lafadz doa, bukan dengan lafadz berbicara.

5. tidak masalah mndoakan teman kafir untuk mendapatkan hidayah. akan tetapi, untuk pembahasan ini adalah terkait orang muslim.

referensi : rekaman ta’lim dan catatan ana.

semoga bermanfaat

barakallohu fiykum.

 

correct me if i’m wrong

 

About these ads

About zainur rahmah

seorang muslimah yang suka menulis berbagai hal yang memiliki faedah

2 thoughts on “[catatan ta'lim]Mendoakan saudara kita yang tidak ada di tempat

  1. adanya anjuran mendo’akan kebaikan saudaranya jika ia tidak ada di sisinya, adalah bukti bahwa sebenarnya ukhuwah islam itu sangat indah jika bisa diterapkan… islam melarang berpecah-belah

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s