[catatan ta’lim] faedah dari pelatihan merawat jenazah


بسماللهالرحمنالرحيم

Ahad, 22 April 2012.

Sudah lama ana tidak nulis di blog. Sedang sibuk ujian tengah semester di sekolah *alibi*.

Alhamdulillah, hari ini dapat banyak pelajaran yang sangat berharga tentang tata cara perawatan jenazah.

Ini adalah beberapa faedah yang ana petik dari pelatihan perawatan jenazah di masjid darul arqam, perumahan babatan indah sby, dengan ustadzah ummu abdillah dari malang, mulai tadi pagi sampai pukul 14.30 sore…berikut sedikit ulasannya…

1. Wajibnya bagi kita mentalqin orang yang sakaratul maut, hendaknya mengucapkan “ucapkan لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ kepada orang yang sedang sakaratul maut. Hanya ucapkan itu saja, bukan dengan membacakan padanya bacaan-bacaan al-qur’an yang akan membuat orang itu (yang sakaratul maut)  bingung. Mengapa? Karena keadaan orang yang sakaratul maut itu kondisinya sangat berat, hingga ia mungkin lupa bagaimana cara mengucapkannya. Walaupun orang itu sedang koma, kita juga harus mentalqinnya, karena orang yang koma bukan berarti ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh orang lain. Maka dengan mentalqin berarti kita telah membantu saudara kita / mengingatkan akan ucapan   لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ (kalimat tauhid). 

 Rasulullah bersabda, “barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah  لَاإِلهَإِلَّااللهُ maka pasti masuk surga” (H.R. Abu Dawud)

2. Yang harus dilakukan jika ada seorang muslim yag telah dinyatakan meninggal.

– mengucapkan istirja’ 

Pentingnya ucapan istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi raji’un). Yakni barang siapa yang mengucapkan ini ketika tertimpa musibah, maka itu adalah ciri-ciri orang yang bersabar. Ucapan istirja’ ini juga diucapkan bahkan ketika terantuk batu (pokoknya ketika merasa kesakitan qt ucapin kalimat istirja’). Jadi, kalimat ini tidak hanya diucapkan ketika ada yang meninggal saja

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 155-157)

– memejamkan matanya

“dari ummu salamah radhiyallohu ‘anha berkata : rasulullah masuk pada (jenazah) abu salamah dan matanya terbuka, maka beliau pejamkan matanya, kemudian bersabda : ‘sesungguhnya ruh itu bila dicabut mengikuti pandangan mata.” (H.R. Muslim)

Faedah dari hal ini :

# mengikuti sunnah rasul

# untuk menghilangkan pandangan jelek, karena saat merawat jenazah yang matanya terbuka maka itu akan mengganggu pandangan.

Mengapa mata si mayit terbuka? Hal ini dijelaskan oleh rasulullah pada hadist tersebut diatas, ‘sesungguhnya ruh itu bila dicabut mengikuti pandangan maut’. Ruh manusia itu dicabut oleh malaikat maut mulai dari kaki, lalu ke atas. Yang paling berat adalah bagian perut, dan yang paling sakit adalah ketika ruh itu melewati kerongkongan –bayangkan saja ketika kita tersedak makanan, cukup sebiji nasi yang masuk ke rongga yang seharusnya adalah jalannya nafas bukan jalannya makanan. Betapa sakitnya itu. Apalagi ini yang lewat adalah ruh?–  kemudian ketika ruh itu keluar, ia akan keluar lewat mulut, saat itulah mata melihat jika ‘dirinya’ telah dicabut, dan karena itulah ia terbuka.

Berkata abu said al khudry ketika ia sedang mengalami sakaratul maut, “beratnya sakaratul maut seperti langit ditimpakan ke dadaku”.

Maka apabila seorang mukmin mengalami sakaratul maut, malaikat akan menghiburnya, Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.”  (Al fajr 27-28)

الله berfirman, “Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al fajr 29-30)

Seorang mukmin ketika sakaratul maut ruhnya akan terus naik ke atas, sedangkan orang kafir akan dilempar ke dalam bumi.

–  mengikat kedua tulang dagunya, maksudnya adalah menutup mulut dan mengikat kedua tulang rahangnya dengan serban atau yang semisalnya agar tidak kemasukan angin atau air. Apabila jenazah kemasukan angin karena mulutnya terbuka maka tubuh dan wajahnya akan jadi membengkak/menggembung. Mengapa mulutnya bisa terbuka?Mulutnya terbuka karena ruh-nya keluar melalui mulut.

– melemaskan sendi-sendinya untuk memudahkan dalam perawatannya. Namun apabila sudah kaku karena telah terlalu lama, maka jangan dipaksa. Paksaan itu dapat menyakiti mayit dan membuat tulangnya patah. Proses pelemasan dapat dilakukan dengan cara mengolesinya dengan minyak zaitun, bila tidak ada maka bisa pakai minyak goreng biasa.

– meletakkan benda yang seukuran perutnya untuk menahan agar perutnya tidak menggembung karena angin. Benda pemberat ini dapat berupa kantung berisi beras yang jumlahnya disesuaikan dengan ukuran tubuh jenazah. Dalam peletakannya, letakkan pemberat diatas kain yang menutupi tubuh mayit, agar tidak menimbulkan fitnah (karena orang akan punya anggapan yang ‘aneh-aneh’ ketika mereka melihat sesuatu dibalik  kain penutup, oleh karena itu pemberat harus kelihatan).

– menutup tubuh jenazah sampai dimulai pengurusannya. Maksudnya adalah dilepas seluruh pakaiannya, lalu ditutup dengan kain lain. Melepas pakaian ini harus dilakukan, kecuali pada Rasulullah. Rasulullah tidak dilepas pakaiannya.

– bersegera mempersiapkan pengurusannya (perlengkapan memandikan, kafan, dll). Bersegera dalam memandikan, mengkafani, men-sholati, dan menguburkan. Baik itu bagi orang sholeh maupun tholeh.

Dari abu hurairah, bahwa nabi sholallohu ‘alayhi wa sallam bersabda : “segerakanlah penyelenggaraan jenazah. Apabila dia orang baik, makabaiklah mempercepat dia mendapat (balasan) kebaikannya. Dan apabila dia orang yang tidak baik, maka kalian segera menjauhkannya dari kalian.” (H.R. Bukhary & Muslim)

Faedahnya, bila bagi orang sholeh adalah agar ia segera menemui balasan bagi dirinya atas apa yang telah ia lakukan di dunia yakni kebahagiaan setelah  mati yang jauh melebihi kebahagiaan di dunia. Serta sebaliknya, siksaan setelah mati juga jauh lebih berat daripada siksaan di dunia.

Diantara hal-hal yang perlu disegerakan adalah : (1) merawat jenazah (2) menikah

– segera membayarkan hutang jika memiliki hutang.

Dari salamah bin al-akwa berkata : “didatangkan kepada nabi sholallohu ‘alayhi wa sallam seorang jenazah, lalu mereka berkata : ‘yaa rasulullah sholatkanlah dia”. Berkata rasulullah sholallohu ‘alayhi wa sallam : ‘apakah dia punya hutang?’ mereka menjawab, ‘ya’, berkata rasulullah sholallohu ‘alayhi wa sallam ‘apakah dia meninggalkan harta warisan?’ mereka menjawab ‘tidak’, beliau berkata : ‘sholatlah oleh kalian teman kalian ini’, berkata seorang laki-laki anshor bernama abu qatadah kepada rasulullah sholallohu ‘alayhi wa sallam : ‘sholatkanlah jenazah ini dan saya akan menanggung hutangnya’. Maka beliau pun mensholati jenazah tersebut.” (H.R. bukhary)

Segeralah membayar hutang. Orang yang punya hutang tidak boleh disholati, sebab dalam hadist diatas rasulullah menyuruh orang lain untuk mensholati jenazah yang punya hutang itu. Bila ada yang bersedia menanggung hutangnya maka baru boleh disholati, tidak perlu menunggu hutangnya lunas untuk disholati.

Hutang adalah perkara antar sesama manusia yang harus dan wajib diselesaikan. Oleh karena itu, berhatihatilah dengan hutang.

2. Syarat untuk orang yang memandikan jenazah.

# orang shalih / shalihah

Orang shalih / shalihah menjadi syarat karena orang yang shalih atau shalihah  adalah orang yang mengetahui syariat ALLOH, sehingga ia tidaka akan menyebarkan aib orang lain, dalam hal ini adalah aib si mayit.

“barangsiapa menutup aib seorang mukmin maka ALLOH menutup aibnya di hari kiamat.” (H.R. Bukhary & Muslim)

Tidak boleh mencela mayit dengan dalih apapun, misalkan membicarakan keburukan mayit dalam rangka mengambil faedah darinya, maka itu tetap tidak boleh. Karena itu termasuk membuka aib si mayit.

“janganlah mencela orang yang sudah mati kerena mereka telah berlalu dari kehidupan (dunia) ini” (H.R. Bukhary)

# orang yang berpengalaman.

Karena orang yang berilmu dan berpengalaman  akan memandikan jenazah dengan menjalankan sunnah-sunnah Rasul, sehingga bagus dan benar cara memandikannya. Oleh karena itulah rasulullah menyuruh ummu atiyah untuk memandikan jenazah putri beliau dan ibnu abdil bar memastikan jika ummu atiyah adalah orang yang berpengalaman dalam memandikan jenazah.

# lemah lembut dalam memandikan jenazah.

Berdasarkan hadist berikut,

“mematahkan tulang mayat sama seperti mematahkan tulang orang hidup.” ( H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu majah)

3. Selain itu faedah lain yang ana dapat adalah bahwa dalam melakukan perawatan jenazah  tidak boleh menyentuh kulit jenazah secara langsung, karena syariat menetapkan seperti itu. Selama proses perawatan jenazah, orang yang merawat sama sekali tidak boleh melihat aurat si mayit. Aurat yang paling penting adalah pusar lutut. Aurat itu tidak boleh dilihat baik hidup ataupun mati.

4. Banyak kesalahan di adat-adat masyarakat yang tidak sesuai dengan syariat. Yaitu,

Adanya fakta di masyarakat jika orang yang memandikan jenazah adalah bukan mahrom dari orang yang meninggal. Seharusnya, jika yang meninggal laki2 maka dimandikan laki2. Begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, ada pengecualian, misal jika sebelum meninggal seseorang memiliki wasiat ingin dimandikan oleh siapa (seperti, suami yang ingin dimandikan istrinya jika meninggal) maka wasiat ini didahulukan selama tidak melanggar syariat.

Adanya masyarakat yang punya anggapan jika memandikan jenazah adalah satu jam sebelum dikuburkan, alasannya “biar seger”. Seharusnya, yang benar adalah segera merawat jenazah itu.

Ada pula masyarakat yang memandikan jenazah dengan ditambahi bunga-bunga, padahal telah jelas itu adalah peninggalan jejak orang non muslim pendahulu di indonesia, bukan berdasar syariat islam. Jadi, mengapa ditiru? Tinggalkan saja. Cukup lakukan apa yang telah dituntunkan oleh rasulullah.

5. Hal yang paling banyak dari ta’lim ahad ini adalah tentang tata cara merawat jenazah, mulai dari memandikan sampai mengkafani. Ini adalah poin utama dari ta’lim tentang pelatihan merawat jenazah hari ini, tapi panjang dan detail, ana jadi bingung bagaimana menulisnya. Karena detil-nya pelatihan kali ini, ada prakteknya juga lhoo.

Bagi yang ingin tahu detailnya, silahkan bertanya pada ustadz / ustadzah antum (ana merekomendasikan yang salafy ajahh.. Biar tidak membuat galau).

Atau bisa baca di buku “tuntunan mengurus jenazah” karya asy syaikh yahya bin muhammad bin al qosim ad dailami,  penerbit pustaka al isnaad.

tuntunan mengurus jenazah

Afwan jiddan ana belum bisa menuliskan dalil-dalilnya dengan lengkap karena kekurangan ilmu ana. Untuk dalil-dalil, silahkan baca di buku tersebut (bukan promo eaaa… Ana tadi cuma dapat oleh2 buku ini soalnya, jadi insyaa alloh buku itu valid), atau… Bertanya pada ustadz / ustadzah antum (sekali lagi, ana merekomendasikan yang salafy saja…).

Allohu a’lam.

Afwan jika ada kesalahan dalam penulisan atau mungkin salah persepsi. Karena ta’lim kali ini tidak boleh direkam, ana hanya mengandalakan catatan dan modul.

Barakallohu fiyk…

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s