larangan menyebut abdi atau ammati

Image

بسم الله الرحمن الرحيم


Masjid Abu Bakr Ash-Shiddiq
Jl. Jojoran I Blok K / 18-20
Surabaya

Waktu : 16.30 – Maghrib dan Bada Maghrib – Isya
Materi : Kitabut Tauhid (Aqidah)
Pemateri : Al-Ustadz Abul Hasan As-Sidawy

16 April 2012

Bab tidak diperbolehkan seseorang mengatakan abdi wa ammati

Abdi = budak laki-laki.
Ammati = budak perempuan.

Dalam bab ini, penulis menyebutkan larangan dari ucapan “abdi dan ammati” yang diucapkan oleh majikan pada budaknya. Walaupun statusnya adalah budak, tapi dalam memanggilnya tidak boleh memanggil dengan panggilan abdi atau ammati.

Dalam ash shahih, dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “janganlah salah seorang diantara kalian mengatakan siapkanlah makanan untuk rabb-mu (majikanmu), siapkan air untuk berwudhu untuk rabb-mu (tuanmu). Tapi hendaklah ia mengatakan, memanggil majikannya dengan sebutan sayyid atau maula. Dan janganlah seseorang diantara kalian mengucapkan abdi (budak laki-laki) dan ammati (budak perempuan). Hendaklan mengatakan fataya (budak) wa fatati (budak perempuanku) wa fulani (budak milik-ku)” (H. R. Bukhary, Muslim)

Itu jika dalam bahasa arob, bila dalam bahasa kita, rabb maupun sayyid memiliki arti yang sama yaitu majikan. Yang tidak diperbolehkan adalah menyebut majikan dengan ‘rabb’ (dalam bahasa arob).

Dalam masalah ini, terdapat tafsir diantara para ulama. Ada rinciannya,

  1. Diucapkan dalam rangka memberitakan sesuatu. Misalkan ia mengatakan “saya telah memberi makan budakku (memakai abdi)”, untuk memberitakan sesuatu. Jika budaknya mendengar ucapan itu, maka yang seperti itu dimakruhkan. Akan tetapi, jika budak itu tidak ada di hadapan tuannya (tidak mendengarnya), maka diperbolehkan.
  2. Ucapan tersebut diucapkan dalam rangka memanggil budaknya. Misal, “yaa abdi (wahai budakku), kemari!”. Ini diarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Walaupun ada khilaf diantara ulama’ apakah tingkatnya sampai diharamkan atau dimakruhkan.

Di dalam bab ini terdapat beberapa permasalahan, yaitu :

  1. Larangan dari ucapan abdi wa ammati, dilarang dalam rangka memanggil atau memberitakan sesuatu di hadapan budaknya secara langsung. Hal itu dilarang karena lafadz ‘abd dan ammah’ ketika disandarkan pada dhomir pembicara, terkesan menjurus kepada makna al-ubudiyah (ada unsur penghambaan) yang seharusnya hanya untuk ALLOH Azza wa Jalla, sehingga dilarang menggunakan kata/ kalimat menyinggung   hak ALLOH Azza wa Jalla yang diberikan pada mahluq-NYA.
  2. Seorang budak dilarang menyebut tuannya dengan kata rabbi (tuanku), dan dilarang untuk memanggil tuannya dengan rabb. Hal ini dikarenakan Rabb termasuk nama yang dimiliki oleh Alloh ta’ala.
  3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan untuk orang yang pertama (majikan yang memanggil budaknya) memanggil budaknya tidak menggunakan abdi atau ammati, tapi menggunakan fataya atau fulani.
  4. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan pengarahan pada orang yang kedua (budak) untuk memanggil tuannya dengan lafadz sayyidi atau maulaya.
  5. Tujuan dari pelarangan penggunaan lafadz-lafadz tertentu tersebut  (yang masih dianggap sepele oleh kebanyakan umat muslim) adalah adanya penekanan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan makna yang diinginkan oleh syariat. Yaitu memurnikan tauhid dari noda-noda kesyirikan, sampai pada masalah memanggil atau menyebut seseorang. Dilarang memanggil majikan dengan lafadz yang seolah-olah majikan itu memiliki unsur ketuhanan (rububiyah) yang hanya boleh diberikan untuk Alloh Azza wa Jalla (yakni memanggil dengan sebutan rabb).

Serta dilarang pula memanggil budak dengan panggilan yang mengesankan unsur penghambaan yang hanya diberikan untuk Alloh Azza wa Jalla, seperti lafadz abdi atau ammati (jika memang punya budak). Budak saja tidak boleh dipanggil dengan begitu, apalagi pembantu yang bukan milik kita. Begitu pula majikan walaupun mungkin ia yang memberikan gaji, dan jatah rizqi dari Alloh datang melalui tangannya, tetap saja menyanjung dengan memanggilnya dengan panggilan yang seolah-olah memiliki unsur rububiyah.

Fungsinya adalah untuk menutup segala pintu kesyirikan. Semua lafadz yang mengesankan unsur kesyirikan, memberikan sesuatu yang seharusnya untuk Alloh Azza wa Jalla  pada selain Alloh subhanahu wata’ala, semuanya dilarang, sekecil apapun itu. hali itu menunjukkan pentingnya tauhid dalam islam. Bahkan seluruh ayat al qur’an berbicara tentang tauhid, sampai pada kisah-kisah di dalam al qur’an adalah mengandung unsur nilai-nilai tauhid.

Semua isi al quran berbicara tauhid, baik itu seputar hukum, berita, dan yang lainnya, hal itu disebabkan oleh (dijelaskan oleh ibnul qayyim rahimahullah) “inti al quran adalah tauhid, bahkan semua pembahasan adalah tauhid, mungkin berupa penjelasan secara langsung tentang makna tauhid (baik itu tauhid rububiyah–yakin yang menciptakan, mengatur rizqy, dan lainlain hanyalah alloh ta’ala –, uluhiyah –yakin bahwa kewajiban mempersembahkan semua ibadah hanya pada alloh Azza wa Jalla –, maupun tauhid asma’ wa sifat  – dalam bab nama-nama dan sifat alloh harus ditetapkan dengan keimanan yang benar–. ) atau berisi tentang lawan dari tauhid (karena tidak sempurna iman seorang hamba jika tidak mengerti lawan dari tauhid) seorang yang mengerti tauhid tapi tidak tahu lawannya, akan rentan jatuh dalam kesyirikan dalam keadaan ia tidak sadar. Atau al quran menjelaskan balasan bagi ahlul tauhid, yang diberikan di dunia dan di akhirat. Atau menjelaskan balasan bagi orang-orang yang menentang tauhid, berita umat-umat terdahulu yang dihancurkan karena menentang tauhid”.

Dakwahnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari awal berdakwah sampai akhir hidupnya adalah tentang tauhid. Oleh karena itu, tidak layak bagi seorang muslim melalaikan masalah tersebut, mengacuhkan masalah tauhid. Anggapan yang seolah-olah menyepelekan masalah tauhid termasuk was-was dari syaithon. Dimana ketika seorang hamba lemah tauhidnya dan jauh dari pemahaman masalah tauhid maka akan sangat mudah bagi syaithon, dengan izin alloh Azza wa Jalla,  menjatuhkan hamba itu dalam sekian banyak penyimpangan. Seseorang bahkan rela menanggalkan  keimanannya hanya demi 1 kardus mie, uang, dll, rela melepas keislamannya (murtad). Ia melepaskan keimanannya bukan semata-mata kerena kemiskinan, tapi karena lemahnya tauhidnya.

Seseorang jatuh pada kebid’ahan, itu juga karena rendahnya kualitas tauhidnya. Apalagi sampai pada tingkatan ia menganggap baik perbuatan bid’ahnya. Ia berani menyanggah dalil-dalil dalam kitab dan sunnah, dalam keadaan sangat jelas jika apa yang dia lakukan tidak ada sandarannya sedikitpun. Serta dia pun mengakui jika apa yang ia lakukan tidak ada dalilnya, dia hanya berkata “tapi kan itu baik, masak berbuat baik dilarang?”. Ucapan itu, walaupun enteng, tapi besar di sisi alloh ta’ala.

Sampai pada seseorang jatuh pada kema’siatan, itu juga menggambarkan kualitas tauhidnya lemah. Kurang mengindahkan perkara tauhid. Misalkan seseorang dikatakan kualitas tauhidnya lemah, padahal secara dhahir ia adalah ahli ibadah, namun ia jatuh pada kema’siatan. Mengapa hal  itu terjadi? bukanlah dalam al quran alloh berfirman jika “Alloh mengetahui khianat mata hambaNya dan apa yang disembunyikan hamba itu dalam dadanya yang tidak diketahui siapapun kecuali hanya diketahui oleh Alloh”. Ayat itu mengandung masalah tauhid. Dimana orang itu seolah-olah lupa jika Alloh mengetahui bisikan hatinya yang mengajak pada kemaksiatan. Maka hal itu menunjukkan jika ia menyepelekan masalah tauhid. Dan hal ini sering sekali menimpa kita, maka tidak layak bagi kita untuk meyepelekan maslah tauhid.

Dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah dakwah tauhid, maka termasuk penyimpangan adalah menyepelekan masalah tauhid. Jangan meninggalakan masalah tauhid hanya karena anggapan jika masalah tauhid akan membuat masyarakat lari, kemudian hanya membahas tentang keindahan islam (yang indah-indah saja), karena hal ini termasuk tanda dari adanya penyimpangan walaupun telah merasa ada di atas keislaman.

Terlepas dari hal itu semua, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam banyak hadist mengajak umatnya untuk memperhatikan masalah tauhid. Karena tauhid adalah inti dan tujuan utama kita semua diciptakan oleh alloh.

Dalam al quran, Alloh Azza wa Jalla berfirman, “tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-KU”

Ayat tersebut ditafsirkan oleh ibnu abbas radhiyallohu ‘anhu, “supaya mereka mentauhid-kan Aku (Alloh Azza wa Jalla).”

Sehingga, segala sesuatu yang bisa menodai kadar tauhid seorang hamba, dilarang dalam agama kita, baik dalam hal ucapan, perbuatan, apalagi keyakinan. Dan tidak mungkin akan tahu apa yang membuat tauhid menjadi rusak, kecuali dengan cara belajar. Yakni mempelajari ilmu agama Alloh Azza wa Jalla, memahi al quran, dan hadist dengan pemahaman para shahabat. Allohu a’lam.

ta’lim disiarkan on line via BismillahRadio Surabaya (http://bismillah.us/)

================================================================

bab ke-2 yang dibahas dalam kajian 16 april 2012 ini telah ana posting di blog, hanya saja… itu adalah hasil catatan kajian ana saat di nganjuk tahun lalu. insyaa alloh isinya sama. untuk membaca silahkan klik (meminta dengan menyebut nama الله)

–CMIIW–

barakallohu fiyk ^^

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s