[catatan ta’lim] “Faedah surat alfatihah”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kajian tematik “Faedah surat alfatihah”

Pembicara : Al Ustadz Abu ahmad

Materi :Risalah dari Syaikh muhammad bin abdul wahab rahimahullah tentang sebagian faedah dari surat al fatihah.

Waktu : Jum’at, 2011

Tempat :Masjid Abu bakr ash shiddiq. Jl. Jojoran 1 blok K no 18-20, Surabaya

Risalah dari Syaikh muhammad bin abdul wahab rahimahullah tentang sebagian faedah dari surat al fatihah.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa surat alfatihah adalah surat yang paling afdhol dalam al qur an. Dinamakan surat alfatihah karena surat ini adalah surat pembuka dalam al quran. Ini merupakan surat pertama dalam al quran. Disebut juga dengan  As Sab’ul matsaani/ tujuh ayat yang diulang-ulang, dikarenakan surat ini dibaca dalam setiap rakaat dalam sholat, di baca minimal 17 kali.

Alloh berfirman,

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung.” (Al-Hijr : 87)

Penamaan lain dari surat ini sangat banyak, diantaranya :

–          Ar ruqyah : dikarena surat ini bisa dipakai untuk meruqyah.

Dikisahkan tentang kisah Abu  said al khudri yang beliau meruqyah pimpinan kaum (suku) yang tersengat kalajengking dengan al fatihah.

–          Dinamakan dengan ummul quran.

Terkait dengan hukum, surat al fatihah termasuk dalam rukun sholat. Perkara lain tentang muqaddimah surt al fatihah bisa dibaca dalam tafsir ibnu katsir.

PEMBAHASAN SURAT AL FATIHAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Penulis memulai dengan “بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ” . Ada khilaf di kalangan ulama tentang apakah basmallah itu merupakan bagian al fatihah atau bukan. Ada yang menyebutkan itu bagian dari al fatihah. Ada pula yang menyatakan bukan, sehingga al fatihah dimulai dari الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Pendapat yang ke-2 inilah yang dikuatkan oleh para ahlu tahqiq dari kalngan ulama, bahwa basmallah bukan merupakan bagian dari al fatihah. Diantara hujjah yang mereka sebutkan adalah hadist qudsi, “ Alloh ta’ala sebutkan, ‘Aku bagi al fatihah menjadi 2  antara Diriku dan hambaKu, separuh untuk hambaKu dan separuh untuk Diriku. Jika seorang hamba mengucapkan ‘alhamdulillahirabbil ‘alamin’, maka seorang hamba itu  telah memuji Diriku… (sampai akhir hadist qudsi)”.

Faedah surat al fatihah.

  1. Dalam ayat,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,”

Dalam ayat tersebut terdapat faedah al mahabbah, cinta. Cinta dalam ayat ini adalah dari sisi pujian. Al hamdu definisinya adalah pujian kepada Alloh ‘azza wa jalla disertai rasa cinta (mahabbah). Sehingga dengan ini, kata al hamdu khusus dimutlaq-kan hanya untuk Alloh tabaraka wa ta’ala. Maka tidak boleh menggunakan kata ini (al hamdu) untuk orang lain, karena al hamdu terkandung makna pujian disertai dengan cinta dan pengagungan. Adapun sekedar pujian (as sana’) maka diperbolehkan untuk mahluq.

Alloh subhanahu wa ta’ala adalah dzat yang memberikan ni’mat. Seorang yang memberi dicintai sebatas pemberiannya (sebesar pemberiannya), sebagaimana hal ini terjadi pada sesama manusia, dimana orang yang sering memberi akan dicintai oleh saudaranya yang memberi tersebut. Sebesar apa yang ia berikan, maka sebesar itu cinta orang lain kepadanya. Oleh karena itu, metode yang dicontohkan oleh rasul untuk bisa saling mencinta satu dan lainnya adalah dengan cara memberi hadiah. Dengan memberi, maka orang akan mencintai kita.

Dalam hal ini, pemberian Alloh ‘azza wa jalla kepada kita tidak terbatas, sehingga jika alloh telah memberi kita tanpa batas, maka kewajiban bagi kita adalah mencintai alloh tanpa batas. Diantara dalil yang menunjukkan peberian Alloh tanpa batas adalah firman Alloh tabaraka wata’ala :

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya…” (Ibrahim : 34)

Maka Alloh ‘azza wa jalla adalah dzat yang maha luas pemberiannya, sehingga wajib kita cintai.

Mahabbah terbagi menjadi 4 macam, yaitu

  1. Al mahabbatu syirkiyah, yaitu rasa cinta yang sifatnya syirik. Ini terkait dengan orang-orang yang disebutkan di surat al baqarah, tentang ada sebagian manusia yang mencintai tandingan selain alloh seperti cintanya mereka pada alloh ‘azza wa jalla.
  2. Cinta kebatilan dan cinta pelaku kebatilan, benci pada al-haq serta benci pada orang-orang yang ada di atas al-haq. Ini adalah sifatnya orang munafiq.
  3. Mahabbah thobi’iyah, cinta yang sifatnya tabi’at. Yaitu mencintai anak, harta, keluarga, istri, suami. Maka cinta karena tabi’at ini apabila tidak menyibukkan atau tidak melalaikan dari ketaatan pada Alloh ta’ala, serta tidak membawa pada yang haram. Maka cinta karena tabi’at ini menjadi mahabbah yang sifatnya mubah. Seperti seseorang yang mencintai harta, cinta harta adalah tabi’at manusia (setiap orang suka harta), maka cinta ini adalah mubah selama harta tidak membawa orang itu pada hal-hal yang haram dan melalaikan dari ketaatan pada alloh. Begitu pula cinta pada istri dan cinta kepada anak, serta perkara mubah lain. Cinta ini adalah mubah selama melalaikan dari ketaatan pada Alloh ta’ala dan tidak membawa pada perkara yang haram.

Cinta ahlu tauhid dan benci ahlus syirik. Ini adalah tali keimanan yang paling kuat. Yakni cinta kerena Alloh ‘azza wa jalla dan benci karena alloh (cinta yang syar’iy), serta diatas syari’at Alloh. Dan dengan mahabbah inilah seseorang beribadah pada Alloh tabaraka wa ta’ala.

2. Faedah dari ayat,

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,”

Dalam ayat ini terdapat faedah ar-roja’ (berharap). Yaitu berharap rahmat alloh, dikarekan jika alloh adalah Ar rahman dan Ar rahim. Ar rahman adalah dzat yang memiliki rahmat yang luas, meliputi seluruh mahluq-Nya. Sedang ar rahim adalah rahmat yang sampai pada kaum mukminin, rahmat yang khusus, rahmat yng khusus bagi hambaNya. Oleh karena alloh memiliki rahmat yang luas dan yang khusus, maka kita dianjurkan untuk berharap pada alloh.

3. Selanjutnya adalah ayat,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai hari pembalasan.”

Di dalam ayat ini terkandung faedah al khauf. Dalam ayat ini disebutkan bahwa alloh adalah penguasa (pemilk) di hari kiamat, sehingga tidak ada raja melainkan alloh, tidak yang memiliki melainkan alloh. Maka hal ini mengharuskn dalam diri hamba ada rasa  khauf (takut). Takut pada Alloh tabaraka wata’ala, takut pada datangnya hari itu, dikarenakan tidak ada yang memiliki selain alloh, takut akan adzab alloh tabaraka wata’ala.

4. إِيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah”

Yaitu maknanya, “aku beribadah pada Engkau wahai Rabb-ku dengan 3 perkara yang disebutkan tadi, yaitu aku beribadah pada Engkau wahai Rabb-ku dengan rasa cinta padaMU, dengan penuh harap, dan rasa takut.” Maka penulis menyebutkan jika 3 hal tersebut al mahabbah (cinta), ar roja’ (harap), dan khauf (takut) merupakan rukun ibadah, sehingga dalam setiap ibadah kita harus terkandung 3 unsur tersebut.

Cinta. Ibadah kita didasari kerena cinta pada alloh, bukan kerena benci, bukan pula karena terpaksa, tapi karena cinta pada Alloh tabaraka wata’ala.

Roja’ (harap). Dalam ibadah kita berharap agar ibadah kita diterima Alloh tabaraka wa ta’ala, agar ibadah kita mendapat pahala dari Alloh ‘azza wa jalla, berharap jannah dari Alloh tabaraka wa ta’ala, berharap balasan yang baik dari Alloh ta’ala.

Khauf (takut). Dalam ibadah harus ada rasa takut, takut pada adzabnya Alloh ta’ala, takut pada nerakanya Alloh tabaraka wa ta’ala, takut ibadahnya tidak diterima.

Oleh karena itu, dalam ibadah harus ada 3 perkara itu. Kemudian penulis melanjutkan, jika memalingkan sebagian dari 3 perkara itu pada selain alloh tabaraka wa ta’ala adalah dihukumi syirik.

Baik itu mahabbahnya mencintai selain alloh seperti ia mencintai Alloh ‘azza wa jalla, maka itu syirik,

Kemudian roja’, berharapnya hanya pada selain Alloh tabaraka wa ta’ala, atau berharap pada selain Alloh seperti ia berharap pada alloh ta’ala, maka itu adalah roja’ yang syirkiyah –syirik–,

Maupun khauf, jika ia takut pada selain Alloh seperti ia takut pada Alloh subhanahu wata’ala, maka itu adalah khauf yang syirik. Seperti ketika seseorang takut kepada wali-wali, takut jika kualat jika mencela wali fulan. Hal ini terjadi dikalangan kaum muslimin, lebih takut pada wali daripada takutnya pada Alloh tabaraka wata’ala. Apabila ia bersumpah, maka bersumpah dengan nama Alloh, lebih mudah untuk ia lakukan, walaupun itu sumpah yang dusta. Akan tetapi, bila bersumpah dengan nama wali, ia tidak berani dusta, takut kualat, takut wali itu bisa memberi mudharat padanya. Maka ini adalah takut yang syirik.

Dari sini, kita mengetahui jika setiap ibadah kita harus disertai khauf dan roja’.

Maka dari 3 ayat diatas menjadi bantahan terhadap orang-orang yang melakukan ibadah hanya dengan salah satu dari 3 hal tersebut (mahabbah, roja’, dan khauf), sehingga tidak boleh seseorang beribadah dengan salah 1 saja.

Kata penulis, seperti orang-orang yang menyandarkan ibadahnya pada cinta saja. Maka mereka ini adalah orang-orang sufiyah. Mereka beribadah pada Alloh tabaraka wata’ala hanya berlandaskan cinta saja, tanpa rasa takut pada Alloh (tidak takut pada nerakanya Alloh ta’ala) dan juga tanpa rasa harap pada Alloh tabaraka wa ta’ala (tidak mengharap surganya Alloh). Sehingga timbullah ucapan mereka, dari syair seorang perempuan sufiyyah (tokoh sufi), “wahai Alloh kalau seandainya aku beribadah pada Engkau dalam rangka mengharap surga-Mu, maka jangan masukkan aku ke dalam surga-Mu. Akan tetapi bila aku beribadah pada Engkau dalam ranga takut pada nerakaMu, maka masukkan aku ke dalam nerakaMu”.  Sehingga ibadah mereka tidak berharap surga dan tidak takut neraka. Oleh karena itu muncullah pujian dan ucapa lain yang maknanya adalah sama seperti itu, seperti ucapan, “yaa alloh aku ini bukan orang yang pantas masuk surga, tapi aku juga tidak kuat berada di neraka”.

Atau orang-orang yang mendasari ibadahnya dengan roja’ saja, tanpa mahabbah dan khauf, yaitu al murji’ah (orang-orang murji’ah). Mereka melakukan ibadah hanya dengan harapan saja, sehingga apabila ada diantara mereka yang terjatuh pada kemaksiatan, mereka tenang dan mengucapkan “tenang, rahmat Alloh itu maha luas, Alloh itu maha pengampun”. Terlalu besar roja’ mereka, sehingga mereka lebih menekankan pada ayat-ayat yang berisi harapan tanpa memperhatikan ayat yang berisi ancaman. Kata murji’ah, berasal dari kata roja’, karena mereka terlalu besar roja’-nya, tanpa ada khauf.

Atau orang-orang yang mendasari ibadahnya dengan khauf semata, yaitu orang khawarij. Mereka ini lebih menekankan khauf dalam ibadah, dan meninggalkan masalah roja’. Sehingga mereka menggali kuat-kuat ayat atau hadist tentang ancaman, dan mengesampingkan masalah roja’. Sehingga mereka terjatuh pada aqidah yang sesat, diantaranya adalah mengkafirkan pelaku dosa besar. Dosa besar itu besar  ancamannya, tapi karena rasa takutnya, orang khawarij menganggap bahwa itu adalah kafir, tidak ada kesempatan bagi pelakunya untuk bertaubat. Maka mereka pun mencap kafir para pelaku dosa besar, mereka mengesampingkan masalah roja’, bahwa Alloh maha luas rahmatnya, Alloh mengampuni segala dosa, Alloh melarang hambaNya berputus asa dari rahmatNYA.

Bila melihat biografi orang-orang khawarij terdahulu (bukan yang sekarang), mereka adalah orang-orang yang takut jatuh dalam kemaksiatan (dosa). Sehingga tatkala Ali bin abi thalib radhiyallohu ‘anhu ditannya oleh para shahabat lainnya, yaa amirul mu’minin, apakah mereka ini kafir sehingga kita perangi?. Maka kata beliau radhiyallohu ‘anhu, bahkan mereka itu adalah orang-orang yang lari dari kekufuran, takut pada kekufuran itu sehingga lari sejauh-jauhnya, tapi terlalu melampaui batas (berlebihan). Itu khawarij dulu, tapi kalau khawarij sekarang tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. allohu a’lam.

Maka barang siapa memalingkan diri hanya pada salah satunya saja (dari al mahabbah, khauf, serta roja’), maka ia adalah pelaku kesyirikan. Kemudian kata penulis, dan dalam 3 ayat pertama tersebut merupakan bantahan bagi 3 kelompok sesat (tersebut di atas) yang hanya menggantungkan ibadahnya pada salah perkara (dari 3) tersebut saja.

Dari 3 ayat pertama (tentang al mahabbah, roja’, dan khauf) surat al fatihah tersebut dapat diketahui tingginya surat al fatihah. Hanya 3 ayat yang ringkas, tapi membantah 3 aqidah kelompok sesat yang ada. Al fatihah disebut , ada sekian banyak faedah dan fadhilah dari surat al fatihah.

5. Selanjutnya adalah ayat إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”

Dalam potongan ayat ini terdapat kandungan tentang jenis-jenis tauhid, yakni :

–          Tauhid rububiyah adalah pengakuan bahwa Alloh tabaraka wata’ala adalah satu-satunya pencipta, pemilik, dan pengatur alam semesta. Maka kita harus meyakini itu. termasuk di sini menghidupkan, mematikan, memberi rizky, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, menurunkan hujan, memberikan ni’mat semuanya dari Alloh ta’la

–          Adapun tauhid uluhiyah adalah pengakuan jika Alloh tabaraka wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi, sehingga seorang hamba tidak boleh beribadah pada selain Alloh tabaraka wata’ala, apapun bentuknya, entah itu besar / kecil, lahir/bathin. Jika itu ibadah maka hanya berhak diberikan pada Alloh tabaraka wata’ala.

–          Selanjutnya adalah tauhid asma’ wa sifat, yaitu mengakui bahwa Alloh mempunyai nama-nama yang dan sifat-sifat yang tinggi. Yaitu dengan kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang ditetapkan Alloh ‘azza wa jalla sendiri dalam al quran, ataupun ditetapkan dalam al hadist oleh rasulullah shalallohu ‘alayhi wa sallam. Tanpa kita menolak, meyelewengkan maknanya, tanpa menyerupakan dengan mahluq-NYA, serta tanpa bertanya bagaimana hakikat dari nama dan sifat tersebut.

Dalam ayat ini, terdapat 2 kandungan tauhid, yakni tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah.

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”

Dalam potongan ayat itu terkandung tauhid rububiyah. Yaitu dalam masalah istianah (meminta tolong) kita hanya minta tolong pada Alloh tabaraka wa ta’ala, karena memberikan pertolongan adalah konsekuensi dari tauhid rububiyah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah”

Dalam potongan ayat ini terkandung tauhid uluhiyah, yakni hanya kepada Engkau yaa Alloh, kami beribadah. Karena peribadatan hanya untuk Alloh tabaraka wata’ala.

6. Ayat selanjutnya

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,”

Kata penulis, dari ayat ini ada bantahan bagi ahli bid’ah. Dari sisi mana bantahan ini?

Al hidayah yang diminta dalam hal ini mencakup 2 macam hidayah, yaitu :

–          Hidayah taufiq (kecocokan). Meminta hidayah pada Alloh tabaraka wata’ala berupa kecocokan pada islam. Hidayah ini hanya Alloh yang bisa memberikan.

–          Hidayah al irsyad (bimbingan). Meminta hidayah berupa bimbingan pada Alloh untuk ditunjukkan jalan yang lurus dalam islam itu sendiri. Hidayah ini melalui lisan para rasul. Kerena bimbingan Alloh dalam hal ini tidak bisa langsung Alloh ta’ala turunkan, tapi melalui al quran dan melalui Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam. Inilah merupakan bantahan bagi ahli bid’ah. Sebab jika ingin mendapatkan hidayah yang lengkap harus mengikuti apa yang dituntunkan Rasulullah, sebab Rasul adalah menuju hidayah. Akan tetapi, ahlul ahwa’ wal bida’ tidak mau mencontoh rasulullah, sehingga mereka tidak akan mendapatkan hidayah irsyad ini.

Tekait dengan ayat ini, disbutkan oleh ibnul qayyim, dalam ayat ini juga mencakup dua jenis hidayah yang lainnya, yaitu : hidayatul ‘ilm, hidayatul amal

Hidayah yang diminta adalah hidayah berupa ilmu yang bermanfaat, dan hidayah mengamalkan ilmu tersebut.

Bila seseorang meminta hidayah maka yang pertama adalah memina hidayah ilmu yang bermanfaat, sehingga ia akan tahu mana yang haq, yang bathil, yang taat, dan yang ma’siat.

Setelah itu adalah meminta hidayah amal. Mengapa? Karena jika semata-mata hanya ilmu yang bermanfaat, tapi tidak dimanfaatkan maka percuma.

Disebutkan oleh ibnul qayyim rahimahullah, dengan 2 hidayah inilah seseorang dapat berjalan di atas jalan yang lurus. Jika seseorang kehilangan salah satu atau dua-duanya, maka ia tidak akan berjalan di atas jalan yang lurus.

Misalnya, seseorang yang tidak mendapatkan ilmu nafi’, tapi ia beramal. Maka ia tidak akan di jalan yang lurus, ia beramal tidak di atas ilmu. Ia seperti orang-orang nashara, jalannya orang-orang yang sesat, yaitu orang yang banyak beribadah pada Alloh tabaraka wata’ala tanpa ilmu. Sehingga ibadah yang ia lakukan menjadi ibadah yang ngawur.

Begitu pula dengan orang yang mendapatkan hidayah ilmu, tapi tidak mendapatkan hidayah amal. Maka dia juga tidak mendapatkan shiratal mustaqim, bahkan ia dicap sebagai orang-orang yang dimurkai oleh Alloh ‘azza wa jalla. Yaitu orang-orang yahudi, dan orang-orang yang semisal dengan mereka (berilmu tapi tidak beramal).

Sehingga, bila ingin selamat, maka harus mendapatkan 2 hidayah itu.

Disebutkan oleh al imam sufyan ibnu uyainah rahimahullah, maka barang siapa yang rusak dari kalangan ulama kita, yaitu ulama berilmu tapi rusak (tidak mengamalkan ilmunya, maka dia menyerupai orang-orang yahudi. Adapun orang-orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah, yaitu ia ahli ibadah tapi tidak di atas ilmu, maka dia menyerupai orang-orang nashara.

2 jalan itu adalah 2 jalan yang tercela, yang kemudian dibantah oleh Alloh tabaraka wa ta’ala pada ayat yang selanjutnya. Maka penting bagi kita untuk memohon (berdoa) pada Alloh untuk diberikan jalan yang lurus berupa ilmu dan amal.

Allohu a’lam.

Insyaa Alloh lanjutan faedah surat Al fatihah bersambung pada pertemuan / post yang selanjutnya…

=======================================================================================

Alhamdulillah, selesai transkrip kajian tematik tentang “sebagian faedah surat Al fatihah pertemuan 1”. Ini adalah kajian yang menggantikan kajian ustadz afif ketika beliau berhaji tahun lalu (2011). Afwan jiddan, ana lupa tanggalnya.

salinan catatan pertemuan ke-2 bisa antum baca di [catatan ta’lim] “Faedah surat alfatihah” bagian 2

Afwan apabila terdapat kesalahan dalam penulisan transkrip ini, ana hanya menggunakan rekaman sebagai acuan penulisan. CMIIW

Barakallohu fiyk ^^

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s