[catatan ta’lim] “Faedah surat alfatihah” bagian 2

autumn

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kajian tematik “Faedah surat alfatihah”

pertemuan ke-2

Pembicara : Al Ustadz Abu ahmad

Materi :Risalah dari Syaikh muhammad bin abdul wahab rahimahullah tentang sebagian faedah dari surat al fatihah.

Waktu : Jum’at, 2011

Tempat :Masjid Abu bakr ash shiddiq. Jl. Jojoran 1 blok K no 18-20, Surabaya

Ayat terakhir suratul fatihah

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Maksudnya,

“Yaa alloh berikanlah hidayah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat (yaitu jalannya para Nabi, Shiddiqin, syuhada, ataupun shalihin), bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat”.

Kata syaikh muhammad bin Abdul wahhab rahimahulloh, adapun 2 ayat terakhir didalamnya terdapat penyebutan kondisi manusia, maka alloh subhanahu wata’ala membagi manusia menjadi 3 golongan, yaitu :

  1. Orang-orang yang alloh ta’ala beri ni’mat
  2. Orang-orang yang alloh ‘azza wa jalla murkai
  3. Orang-orang yang tersesat.

Maka kondisi manusia tidak lepas dari 3 kondisi tersebut.

Adapun golongan pertama, orang-orang yang alloh ta’ala beri ni’mat, maka mereka itu adalah orang-orang yang di atas jalan yang lurus. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan 2 hidayah (seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni hidayah ilmu dan amal), karena hanya dengan 2 hidayah itulah seseorang ada di atas jalan yang lurus.

Kemudian, golongan yang kedua, golongan orang-orang yang alloh ‘azza wa jalla murkai. Golongan ini adalah golongan yang hanya mendapatkan 1 nikmat (hidayah) dari 2 nikmat(hidayah). Mereka adalah orang yang hanya mendapat hidayah ilmun nafi’ (ilmu), tapi tidak mengamalkan ilmunya. Mereka adalah orang yang mengetahui al-haq tapi tidak mau mengamalkan. Yang demikian pula memberikan isyarat agar kita bersemangat mengamalkan ilmu yang kita dapatkan, kerena apabila kita tidak mengamalkannya, maka dihawatirkan kita akan jatuh pada golongan ke-2 ini.
Ada banyak ancaman baik dalam al quran maupun sunnah terkait golongan ini sangat banyak, diantaranya Alloh subhanahu wata’ala sebutkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.“ (QS. Ash Shaff : 2-3)

Dimana ia mengetahui al-haq tapi tidak mau mengamalkan. Maka ia mendapatkan kemurkaan besar dari Alloh subhanahu wata’ala sebab berucap sesuatu yang tidak diamalkan. Wallohu a’lamu bish showab.

Lalu, golongan ketiga, golongan orang-orang yang tersesat. Mereka adalah golongan yang mendapatkan 1 hidayah pula. Golongan ini adalah orang-orang yang mendapatkan hidayah yang ke-2 tanpa yang pertama, yakni orang-orang yang bersemangat untuk mengamalkan suatu amalan tetapi tidak di atas ilmu syar’iy. Yaitu dari golongan orang-orang jahil (bodoh), yang tidak memiliki ilmu, tapi semangat melakukan ibadah, sehingga amalan ibadah dia tidak di atas ilmu. Amalan ibadahnya tidak dilakukan di atas bimbingan Alloh ta’ala dan rasul-NYA, sehingga jadilah ia orang-orang yang tersesat. Allohu a’lam.

Orang-orang yang Alloh ta’ala murkai adalah orang-orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya. Adapun orang yang tersesat adalah orang yang bersemangat beribadah (ahli ibadah) tanpa ilmu.

Walaupun ayat ini turun dikarenakan orang yahudi dan nashara. Akan tetapi, ayat ini berlaku umum bagi orang-orang yang memilki sifat-sifat yang disebutkan tadi. Orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang yahudi dan orang-orang yang memiliki sifat seperti orang yahudi, yakni berilmu tapi tidak beramal. Adapun orang yang sesat adalah orang nasahra dan orang-orang yang memiliki sifat seperti orang nashara, yakni beramal tanpa didasari ilmu.

Golongan ke-2 dan ke-3 tersebut adalah golongan yang dimurkai Alloh ‘azza wa jalla dan golongan orang-orang yang sesat. Adapun golongan orang-orang yang diberi nikmat (golongan pertama) adalah golongan yang mendapatkan 2 hidayah. Disebutkan dalam al qur an,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Qs. An Nisaa’ : 69)

Mereka adalah orang-orang yang diberi nikmatdan mereka inilah orang-orang yang ada di atas jalan yang lurus, yang kita minta dalam setiap sholat kita. Yakni orang-orang yang memiliki sifat berilmu dan amal. Wallohu a’lamu bish showab.

================================================

ini adalah lanjutan dari post [catatan ta’lim] “Faedah surat alfatihah”

catatan ini di salin ulang berdasarkan rekaman kajian ana. cmiiw.

barakallohu fiyk.

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s