[catatan ta’lim] “Faedah surat alfatihah (sesi tanya jawab)”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kajian tematik “Faedah surat alfatihah [tanya jawab] pertemuan 2


Pembicara : Al Ustadz Abu ahmad

Materi :Risalah dari Syaikh muhammad bin abdul wahab rahimahullah tentang sebagian faedah dari surat al fatihah.

Waktu : Jum’at, 2011

Tempat :Masjid Abu bakr ash shiddiq. Jl. Jojoran 1 blok K no 18-20, Surabaya

 

 

1. Alasan mengapa surat al fatihah dikatakan sebagai ar ruqyah adalah adanya kisah beberapa orang shahat, diantaranya abu said al khudry radhiyallohhu’anhu, sedang safar dan melewati suatu kaum. Mereka meminta dijamu sebagai tamu, tapi kaum itu menolak. Kemudian, ternyata pimpinan dari kaum itu tersengat kalajengking sampai badannya menggigil. Maka salah satu penduduk meminta kepada para shahabat untuk datang kepada pimpinannya untuk mengobatinya, kemudian abu said al khudry atau selainnya datang padanya dan membacakan al fatihah. Dengan izin Alloh ta’ala, orang itu sembuh dari racun sengat kalajengking tadi. Kemudian para shahabat dijamu,disembelihkan kambing. Kemudian mereka melapor pada rasulullah shalallohu ‘alayhi wa sallam dan beliau berkomentar jika bagaimana mereka tahu bahwa surat al fatihah itu ruqyah.

Maka syahid di sini, Rasulullah shalallohu ‘alayhi wasallam  mengatakan al fatihah sebagai ruqyah. Apakah ini terkait seluruh penyakit atau suatu penyakit tertentu? Allohu a’lam, dhahirnya umum sifatnya, jadi seluruh penyakit maka bisa diruqyah dengan menggunakan al fatihah. Yang dipraktekkan para shahabat adalah untuk sakit tersengat kalajengking. Wallohu a’lamu bish showab. Artinya bisa juga dipraktekkan untuk penyakit ‘ain ataupun penyakit yang lainnya karena pemutlak-an nama ruqyah oleh rasulullah shalallohu ‘alayhi wasallam.

Adapun hal-hal yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang menghadiahkan pahala al fatihah bagi orang yang sudah meninggal. Maka untuk bahasan ini antum harus mengerti kaidah secara umum. Kaidah secara umum bahwa seseorang tidak akan mendapatkan hasil melainkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Artinya, jika ingin mendapatkan pahala, seseorang harus berusaha melaksanakan amalan. Hukum asalnya, seseorang tidak akan bisa memberikan pahala pada orang lain, karena bukan jerih payah dia, ini hukum asalnya. Hukum asal ini dikecualikan untuk beberapa amalan, yang secara nash disebutkan oleh rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam bisa, walaupun orang tidak melakukan amalan itu tapi ia bisa mendapatkan pahala. Yang disebutkan di sini contohnya adalah,

–  shadaqah jariyah. Orangnya sudah meninggal dunia, tapi pahala tetap mengalir selama shadaqah jariyahnya dimanfaatkan oleh kaum mukminin.

–  Kemudian yang ke-2 adalah ilmu bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain. Maka orang ini walaupun telah meninggal dunia, selesai amalan dia, ia tetap mendapatkan pahala selama ilmunya masih dimanfaatkan orang lain

–  Yang ke-3 adalah anak yang shalih. Walaupun orangtuanya telah meninggal dunia, ia akan tetap mendapatkan pahala karena anaknya tetap mendo’akannya.

–  Termasuk pula yang dikecualikan adalah masalah shadaqah. Maka untuk permasalahan shadaqah, seseorang bisa meniatkan shadaqah untuk yang lainnya. Ini diambil faedah dari riwayat rasulullah shalallohu ‘alayhi wa sallam tatkala ada seorang shahabat yang bertanya pada rasulullah shalallohu ‘alayhi wa sallam bahwa ibunya meninggal tiba-tiba, jika ia sempat berwasiat  ia tentu akan berwasiat, maka shahabat itu bertanya jika apakah ia boleh bershadaqah untuk ibunya? Maka kata rasulullah shalallohu ‘alayhi wasallam berkata “iya”. Hingga shadaqah itu bisa sampai pahalanya walau ia telah meninggal dunia.

–  Kemudian, termasuk yang dikecualikan di sini adalah masalah haji. Seseorang bisa menghajikan orang lain. Ini didasarkan pada hadist rasulullah shalallohu ‘alayhi wa sallam, hadist shahih. Ada seorang shahabat yang haji, yang hajinya ini menyebut nama, menghajikan nama subrumah. Maka ditanya oleh rasulullah, siapa subrumah? Ternyata subrumah adalah saudaranya dia. Maka itu boleh, selama yang menghajikan ini telah berhaji lebih dahulu.

–  Termasuk pula puasa, dasarnya adalah hadits, “barang siapa yang meninggal dunia dalam kondisi ia memiliki kewajiban puasa, maka dipuasakan oleh walinya”.

–  Termasuk dalam pengecualian ini adalah do’a. Do’anya orang lain itu bisa sampai. Diantaranya adalah do’anya kaum muslimin pada orang yang meninggal dunia pada sholat jenazah.

Selain hal-hal yang dikecualikan tersebut, maka secara umum kembali kepada hukum asalnya. Yakni seseorang tidak bisa mengambil manfaat dari orang lain. Termasuk di sini adalah bacaan ayat suci al quranul karim, tidak bisa dihadiahkan pahalanya kepada orang lain. Belum lagi amalan tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alayhi wasallam. Tidak pernah ada satu riwayat pun, baik yang shahih atau hasan  bahkan yang dhaif yang menyebutkan mereka, rasulullah dan para shahabat, pernah mengirimkan pahala al fatihah pada orang-orang yang sudah meninggal dunia. Baik para syuhada’ yang mati syahid di perang badar atau perang uhud atau sepeninggal rasulullah, tidak ada satu penukilan pun, bahkan yang dhaif, terkait hal ini. Maka wallohu a’lam bish showab, ini adalah perkara yang di nash-kan oleh para ulama sebagai perkara yang bid’ah. Wallohu a’lam bish showab.

2. Perkara mendoakan seseorang mendoakan seseorang dengan dimulai dengan al fatihah juga tidak ada contohnya dari rasulullah shalallohu ‘alayhi wa sallam. Kita tidak mengingkari kemuliaan surat al fatihah yang di dalamnya terkandung banyak faedah. Akan tetapi, perkara yang demikian tidak ada contohnya dari rasulullah shalallohu ‘alayhi wa sallam. Sehingga tidak perlu menggunakannya untuk memulai suatu kegiatan, atau memulai suatu do’a, atau yang lainnya. wallohu a’lam bish showab.

==============================================

ini adalah sesi tanya jawab terkait faedah surat al fatihah pada pertemuan ke-2, yang bisa antum baca pada link [catatan ta’lim] “Faedah surat alfatihah” bagian 2

ana menyalin catatan ini berdasarkan rekaman kajian yang ana punya. Afwan, ana belum bisa meng-upload rekamannya. Bagi yang ingin rekamannya, dapat menghubungi ihwah yang ta’lim di jojoran yang merekam pada saat itu. cmiiw

Barakallohu fiyk.

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.