[catatan ta’lim] cukupkan senda gurau-mu

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kajian tematik “senda gurau”


Pembicara : Al Ustadz Abu ahmad

Waktu : Jum’at, 2011

Tempat :Masjid Abu bakr ash shiddiq. Jl. Jojoran 1 blok K no 18-20, Surabaya

Senda gurau

Terkadang kaum muslimin terbiasa dengan senda gurau. Senda gurau hukum asalnya mubah, selama memenuhi kaidah syar’iy. Kaidah-kaidah itu meliputi,

–           Dalam senda gurau ini jangan sampai ada unsur mengolok-olok agama,baik itu mengolok-olok ayat (al quranul karim) maupun mengolok-olok sunnah rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam. Atau dari perkara-perkara agama. Walaupun dalam rangka guyonan (bercanda) jangan sampai ada unsur-unsur tersebut. Alloh ‘azza wajalla berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At Taubah 65-66)

–          Dalam senda guraunya itu harus jujur, tidak ada kedustaannya. Disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan imam ahmad, “Celaka bagi orang-orang yang berbicara tentang suatu pembicaraan kemudian ia dusta. Tujuannya untuk menjadikan orang lain tertawa.”

Sehingga walaupun dalam rangka bercanda, tidak boleh ada dusta di dalamnya, walaupun hanya pekara kecil. Tidak boleh ada kebohongan di dalamnya.

–          Dalam senda gurau itu tidak boleh ada unsur merendahkan orang lain. Seperti disebutkan dalam surat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok)…” (al hujuraat : 11).

Juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim, “cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat jelek, tatkala ia merendahkan saudara muslim yang lainnya.”

–          Jangan menakut-nakuti saudaranya. Jangan mempermainkan saudaranya. Diriwayatkan oleh Abu dawud dari ibnu abi layla, beliau katakan, mengabarkan padaku para shahabat rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam, maka mereka dahulu pernah safar bersama rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam, ada orang yang tidur diantara mereka, maka sebagian mereka mengambil tali dan diikatkan pada yang tidur itu, ditarik, untuk mengagetkan dia. Kemudian rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “tidak halal bagi seorang muslim untuk menakuti (mempermainkan) saudaranya.”

Hal seperti itu banyak terjadi pada kalangan kita, walaupun itu hanya guyonan,tapi itu tidak halal.

Disebutkan pula dalam riwayat abu dawud, janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik untuk main-main atau sungguhan.

Main-main maksudnya agar saudaranya bingung mencarinya, karena dikira hilang. Hal seperti ini juga tidak boleh. Allohu a’lam.

–          Senda guraunya ini jangan terus menerus, sehingga setiap bertemu pasti bersenda gurau. Hal semacam ini juga tidakboleh. Mk seorang mukmin tidak pantas terus-menerus bercanda. Ia harus bisa memilih, kapan saatnya bercanda dan serius. Tidak berlebih-lebihan.

–          Dalam senda gurau itu hendaknya tetap menetapkan manusia dalam kedudukannya. Apabila ia orang tua, orang yang mulia, walau dalam senda gurau tetap tetapkan ia pada posisi mereka masing-masing. Jangan keterlaluan dalam bercanda. Hingga terkadang ada orang tua yang dijatuhkan sejatuh-jatuhnya, walaupun hanya senda gurau, hal ini tentu tidak pantas untuk dilakukan.

Disebutkan dalam hadits rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam, diriwayatkan oleh abu dawud, “termasuk bentuk pemuliaan alloh adalah alloh memuliakan orang tua dari kalangan kaum muslimin.”

Dimuliakan orang tua, orang-orang yang mulia, walaupun tatkala bersenda gurau, sehingga tidak menjatuhkan kedudukan mereka.

 

–          Dalam senda gurau itu jangan sampai ada unsur ghibah, dimana ketika bercanda terkadang tanpa disadari ada unsur ghibah sana, ghibah sini. Allohu a’lam.

Maka sesuaikan senda gurau kita, hingga senda gurau itu menjadi senda gurau yang mubah dan tidak menjadi senda gurau yang haram.

Termasuk di sini pula (tambahan), tidak boleh senda gurau dijadikan pekerjaan. Senda gurau dengan terus menerus saja tidak boleh, apalagi jika senda gurau itu dijadikan pekerjaan. Maka hal itu tentu lebih tidak boleh lagi.

Sesi tanya jawab :

Jika suatu pekerjaan diharamkan dzat pekerjaannya, maka begitu pula dengan apa yang dihasilkan darinya adalah sama. Karena dzat pekerjaannya memang harom. Berbeda dengan pekerjaan yang asalanya adalah perkara yang mubah, tapi dalam pelaksanaannya tercampur dengan perkara yang harom. Misal :

Mudarris, ini adalah perkara yang mubah, tapi ternyata dalam pelaksanaan pekerjaannya itu  tercampur perkara yang harom, mulai dari ikhtilat, dll. Maka jika seperti itu maka tidak. Kerena asalnya adalah perkara yang mubah, tapi dalam pelaksanaannya tercampur perkara yang harom, hasilnya tidak diharomkan. Tapi jika dzat pekerjaannya itu harom, maka hasilnya pun sama. Wallohu a’lam bish showab.

Ini diambil faedah tatkala alloh ‘azza wa jallo mengharomkan suatu perkara, alloh juga mengharomkan harga dari perkara itu. seperti tatkala alloh subhanahu wata’ala mengharomakan babi, maka jual beli babi pun diharomkan. Dzatnya diharomkan, maka jual belinya pun harom. Dalam jual belinya itu tidak melihat siapa yang membeli, tapi dzat jual belinya itu diharomkan. Ini karena dzat yang dijual adalah perkara yang harom. Maka tidak ada alasan, “saya menjual ini pada orang-orang kafir, bukan pada orang muslim jual babinya ini”, nanti bisa juga hal ini diterpkan pada jual beli khamr, dengan dalih ia menjualnya pada orang kafir, maka jual belinya itu tetaplah harom.

Sedangkan untuk sutera, maka pembahasannya lain. Hal ini dibahas dala riyadhus shalihin, tersebut di sana jika yang diharomkan bagi laki-laki adalah memakainya,mendudukinya, atau bersandar padanya. Adapun yang lain, seperti memegangnya, atau jual belinya maka tidak diharomkan. Yang diharomkan adalah memakainya, itu pun bagi laki-laki, bagi perempuan tidak. Allohu a’lam.

======================================================

ana menyalin catatan ini berdasarkan rekaman kajian yang ana miliki. cmiiw

barakallohufiyk

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.