[catatan ta’lim] “tafsir surat al maa’uun”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“tafsir surat al maa’uun”

Pembicara : Al Ustadz Abu ahmad

Materi : Durusul Muhimmah – Tafsir Surat Surat Pendek

Waktu : Sabtu

Tempat : Masjid Jurusan Teknik Mesin ITS, Surabaya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

TAFSIR SURAT AL MAA’UUN

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

“Tidakkah engkau lihat orang yang dia mendustakan ad-diin (hari pembalasan)”

Ad diin bermakna sama seperti yang terdapat dalam surat al fatihah, yakni hari pembalasan, bukan ad-diin yang bermakna agama.

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

“Mereka adalah orang-orang yang menghardik anak yatim”.

Yaitu tidak memperhatikan hak-hak anak yatim.

وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Begitu pula mereka tidak menganjurkan untuk memberikan makan pada orang miskin”

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

“Maka celaka bagi orang-orang yang sholat”

Bagaimana orang-orang yang sholat dikatakan celaka?

Yaitu…

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ

“Orang-orang yang lalai dari sholatnya”

Lalai yang dimaksudkan adalah lalai (tidak mengerjakannya) maupun lalai dari yang diperintahkan, lalai dari kewajiban-kewajiban dalam sholatnya, lalai terhadap rukun-rukun sholatnya, maupun lalai terhadap waktu mengerjakan sholatnya (mengerjakan sholat di luar waktunya karena meremehkan), dll.

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Yaitu mereka yang berbuat riya’ ”

Yaitu orang yang berbuat riya’ dalam sholatnya, mereka sholat, tapi riya’. Mengharapkan pujian orang lain atas sholatnya itu.

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Dan mereka mencegah orang yang meminta minta”

Yaitu mereka tidak mau mamberikan bantuan pada orang yang membutuhkan.

Surat ini dinamakan surat al maa’uun  karena penyebutan al maa’uun pada ayat yang terakhir.

Makna global dari surat ini adalah berbicara tentang 2 kelompok manusia. yaitu:

– Orang-orang kafir yang menentang ni’mat alloh subhanahu wata’ala dan mendustakan hari pembalasan, ada pada ayat 1,2, dan 3.

– Golongan 2 adalah orang munafik, yang mereka dalam amalannya mereka tidak mencari balasan dari alloh subhanahu wata’ala, tapi mengharap pujian.

Adapun golongan orang kafir, dalam ayat ini disebutkan beberapa sifat, yaitu :

1. Mereka mendustakan hari pebalasan, tidak beriman pada hari pembalasan.

Hari kebangkitan adalah hal yang wajib untuk diimani (rukun iman ke-5) diantara bentuk keimanan pada hari akhir adalah al imanu bil jaza’, beriman pada hari pembalasan.

2. Mereka tidak melaksanakan kebaikan. Diantaranya mereka tidak berbuat baik dengan anak yatim, dengan membentaknya, tidak menunaikan hak-haknya tidak mau mengurusinya, cenderung meremehkannya.

-> Maka berdasarkan ayat ini, kita memiliki kewajiban untuk berbuat baik pada anak yatim. Disebutkan oleh rasulullah shalallohu ‘alayhi wa sallam keutamaan orang yang mengurusi anak yatim yaitu posisi seseorang yang mengurusi anak yatim dengan Rasulullah shalallohu ‘alayhi wasallam nanti di jannah akan seperti ini (diisyaratkan dengan 2 jarinya), ini menunjukkan adanya kedekatan antara Rasulullah dengan orang yag mengurusi anak yatim.

3. Mereka tidak perhatian pada orang miskin. Tidak memberi makan, tidak membantu mereka, cenderung menghinakan dan meremehkan mereka.

-> oleh karena itu seorang muslim harusnya memiiki perhatian kepada orang-orang miskin, diantaranya adalah dengan memberikan makan pada yang membutuhkan makanan, membantu mereka yang perlu dibantu, dengan tenaga, dll.

adapun golongan munafiq, sifatnya :

1. lalai dari sholatnya.

maknanya adalah (1) tidak menunaikan sholat, (2) ia menunaikan sholat, tapi tidak dilakukan pada waktunya, (3) ia sholat, tapi ia tidak menjalankan rukun dan kewajiban sholatya, maka ia lalai, tidak perhatian terhadap perkara yang demikian ini.

->maka adanya isyarat untuk perhatian pada masalah sholat, yang rukun, wajib, maupun sunnah-sunnahnya.

2. mereka itu riya’ dengan amalannya.

riya’, mengharap pujian dan balasan dari manusia.

->maka dari ayat ini dapat diambil faedah jika seorang muslim harus ikhlas menjalankan ibadah pada alloh ta’ala.

3.mereka tidak mau menolong orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan.

seharusnya seorang muslim perhatian pada kondisi saudaranya, membantu saat saudaranya butuh bantuan.

ada sekian banyak ayat yang menganjurkan membantu orang lain.

“…alloh menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya…..” (H.R. Muslim dengan lafadz ini)

sehingga dari sini, pertolongan Alloh ‘azza wa jalla pada kita itu sebatas pertolongan kita pada saudara kita. maka kita dianjurkan untuk mudah membantu orang lain, serta masih banyak hadits lain yang menganjurkan kita untuk membantu orang lain.

FAEDAH DRI SURAT INI.

1. penetapan akan aqidah, keyakinan adanya hari kebangkitan, pembalasan, dan perhitungan. dimana hal ini telah diingkari oleh sebagian orang kafir, orang musyrik, diantara pengingkaran ini alloh ta’ala sebutkan dalam al qur an,

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. katakanlah : ‘tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian diberitakan padamu apa yang telah kamu kerjakan’. yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh”. (Q.S. At taghaabun : 7)

serta dalam surat lain dalam al qur an, yakni :

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

 Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”. Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, (Q.S. Yaasiin : 78-79)

2. faedah yang lain dari surat ini adalah anjuran untuk memberi makan pada anak yatim, fakir miskin dan memberikan anjuran bagi orang lain untuk menjalankan perkara ini.

3. anjuran untuk perhatian pada anak yatim. yakni dengan mengurusi mereka, mendidik mereka, menjaga hartanya. yatim dalam hal ini definisinya adalah anak yang ditinggal mati bapaknya dan belum baligh. maka apabila ditinggal mati ibunya, ia bukan yatim karena bapaknya bisa mencarika ibu dan ada yang mengurusnya. bukan pula anak yatim seorang anak yang ditinggal mati bapaknya tapi sudah baligh, kerena ia sudah dewasa, ia sudah bisa mandiri.

definisi anak yatim di sini adalah seorang anak yang ditinggal bapaknya dalam kondisi ia belum baligh. ia belum bisa mengurus dirinya sendiri, masih membutuhkan orang lain, terkait dalam mengurusi dirinya ataupun terkait harta-harta yang ia miliki. wallohu a’lamu bish showab.

4. pembagian ibadah.

ibadah terbagi menjadi 2, ibadah dalam rangka menunaikan hak Alloh tabaraka wata’ala dan ibadah dalam rangka menunaikan hak nya mahluq.

ibadah dalam rangka menunaikan hak alloh tabaraka wata’ala mencakup: sholat, zakat, tauhid, aqidah, dll

terkait dengan hak nya mahluq, mecakup : memeberikan makan pada yang membutuhkan, menunaikan hak anak yatim, dll.

maka diantara seluruh ibadah yang ada maka dua ibadah tersebutlah yang harus kita tunaikan.

5. faedah lain dari surat ini adalah perhatian dalam permasaahan sholat. menjaga waktu, menegakkan rukun, menjalankan kewajiban sholat dengan sempurna, dan melakukannya dengan ikhlas.

6. peringatan dari sifat riya’. yaitu sifat ini adalah sifat yang munafiqin, yang seorang muslim diwajibkan menjauhi sifat ini.

7. anjuran seseorang semangat menjalankan perkara yang baik, walau perkara itu remeh. seperti memeberi pada orang yang membutuhkan, membantu mereka pada apa-apa yang bisa kita jalankan, dll. maka seharusnya kita semangat menjalankannya, tidak meremehkan.

seperti yang disebutkan oleh Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam.

“jaganlah kalian meremehkan perkara yang ma’ruf”

seperti memberi pada orang yang meminta-minta, ketika kita memandang ia adalah orang yang butuh diberi, maka berilah. itu adalah perkara yang ma’ruf dan jangan diremehkan. walau yang kita beri sedikit.

seperti yang disebutkan oleh Rasulullah,

“takutlah pada neraka, walau hanya dengan separuh kurma”

separuh kurma adalah perkara yang remeh, tapi bisa melindungi dari api neraka. maka tidak boleh bagi kita meremehkan perkara yang ma’ruf, walau perkara itu kecil dan remeh. walau perkara itu kecil, maka jangan diremehkan karena perkara itu adalah perkara ma’ruf.

allohu a’lam.

===============

sesi tanya jawab :

1. apa perbedaan fasiq dan nifaq?

fasiq adalah orang yang keluar dari ketaatan pada alloh, semua perkara yang keluar dari ketaatan pada alloh, maka ia fasiq. sehingga, tidak semua orang fasiq itu kafir, tapi setiap orang kafir pasti fasiq.

seorang yang fasiq belum tentu kafir. orang yang tidak sholat, tidak menjalankan perkara yang ma’ruf disebut fasiq. karena ia tidak taat.

adapun nifaq, nifaq adalah munafiq. munafiq adalah seserang yang menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. jadi dhahirnya menampakkan keimanan, tapi bathinnya menampakkan kekufuran, itu adala munafiq. allohu a’lam.

sehingga sangat berbeda, kerena nifaq adalah bagian dari fasiq, meninggalakan ketaatan. kemudian makna fasiq lebih luas daripada nifaq, mencakup semua perkara yang keluar dari ketaatan.

2. masalah nifaq adalah masalah hati, sehingga tidak bisa men-cap nya sebagai seorang munafiq. kita hanya menilai dhahirnya dia. akan tetapi, apabila dari dhahirnya melihat perkara-perkara yang aneh, maka kita hati–hati. seperti pada masa rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam, beliau tahu siapa saja orang-orang yang munafiq, tapi beliau tidak menyampaikannya, kecuali pada seorang shahabat muslim. dia tetap dihukumi seorang muslim, tapi kita perlu hati-hati darinya. walaupun munafiq disebut kafir. akan tetapi karena dhahirnya ia menampakkan islam dan hatinya adalah hanya alloh tabaraka wata’ala yang tahu. maka kita harus hati-hati.

akan sangat tampak seseorang yang memiliki kedengkian pada islam, tapi menampakkan islam. akan tetapi, hal ini tidak dapat kita kafir, atau kita cap munafiq, wlaupun kita tahu sifatnya sangat jelas. tapi sebagai seorang muslim kita perlu berhati-hati pada mereka.

3. disebutkan oleh para ulama, berjihad (memerangi) orang kafir dengan peperangan, dengan tangan. akan tetapi memerangi orang munafiq adalah dengan keras secara lisan, bukan dengan fisik. ini dijalankan pada masa rasulullah, seorang gembong munafiq, ubay bin salul yang tidak dibunuh walaupun telah tampak jelas ditengah kaum muslimin jika sifatnya sangat munafiqin. para shahabat pun juga mengetahui hal ini, tapi ia menampakkan islam, ketika ia mati pun Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam men-sholatinya. walaupun kemudian ada seorang shahabat yang mengatakan pada rasulullah jika orang itu adalah munafiq. maka turunlah ayat yang isinya teguran untuk men-sholati orang munafiq. sehingga secara dhahir ia dihukumi muslim, tapi hati-hati.

4. bagaimana cara memaknai ikhlas?

ikhlas artinya dia dalam amalannya mengharapkan wajah alloh tabaraka wata’ala, mengharap pahala dari alloh tabaraka wata’ala, mengharapkan balasan hanya dari alloh tabarakaa wata’ala, bukan dari selainnya. sehingga, makna ikhlas bukan berarti tidak mengharapkan apa-apa, tapi kita tetap berharap, harus ada roja’. yaitu kita berharap balasan dari alloh, pahala dari alloh, berharap keridhoan alloh dari amalan itu. tidak  berharap balasan dari manusia, ataupun pujian dari orang lain atas amalan sholih tersebut. sehingga keliru apabila ikhlas didefinisikan tidak berharap apa-apa. ikhlas adalah kita berharap pada alloh tabaraka wata’ala, bukan dari yang lainnya.

 

=========

alhamdulillah.

ini catatan ta’lim yang ana tulis ulang berdasar rekaman kajian yang ada pada ana. cmiiw

semoga bermanfaat.

barakallohu fiyk

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.