[catatan ta’lim]tafsir surat al kafirun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“tafsir surat al kafirun”

Pembicara : Al Ustadz Abu ahmad

Materi : Durusul Muhimmah – Tafsir Surat Surat Pendek

Waktu : Sabtu

Tempat : Masjid Jurusan Teknik Mesin ITS, Surabaya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

TAFSIR AL-KAFIRUN

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

“Katakan (yaitu : katakan pada mereka wahai nabi), hai orang-orang kafir”

لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

“Aku tidak beribadah pada apa yang kalian ibadahi”

وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

“Begitupula kalian tidak beribadah pada apa yang aku ibadahi”

Maksudnya, berbeda ilah-nya, antara ilah-ku dan ilah kalian. Jika aku (kaum muslimin menyembah alloh), beribadah pada alloh ta’ala, tapi kalian beribadah pada selain alloh tabaraka wata’ala.

وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

“Dan aku tidak menyembah pada apa yang kalian sembah”

وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

“Begitu pula kalian tidak menyembah apa yang aku sembah”

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Bagi kalian agama kalian, dan bagiku agamaku”.

Banyak hadits dari rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam terkait surat al kafirun. Bahwasanya Rasululloh membaca surat ini dengan surat al ikhlas pada beberapa sholat, diantaranya : sholat sunnah thowaf, sholat qobliyah subuh, ba’diyah magrib, serta pada sholat witir (dimana ke 2 surat ini dibaca dengan surat al a’la).  Oleh karena adanya hadits-hadits tersebut, maka surat ini termasuk dalam surat yang memiliki kedudukan tinggi dalam islam.

Topik dari surat ini adalah terkait masalah al wala’ wal bara’. Yakni, cinta (wala’) pada sesama umat muslim, dan benci (bara’) pada orang-orang kafir dan musyrikin. Berlepas diri dari mereka (orang-orang kafir dan musyrikin), serta berlepas diri dari sesembahan mereka.

Sebab turunnya surat al kafirun adalah ketika orang kufar quraisy mengajak rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam untuk berunding terkait keinginan mereka untuk bersatu, memepersatukan umat muslim dengan mereka (kafir quraisy). Cara yang mereka tawarkan adalah mereka akan menyembah alloh tabaraka wata’ala selama 1 tahun, dan sebaliknya, umat muslim juga harus menyembah sesembahan orang kufar quraisy selama 1 tahun. Maka, Alloh subhanahu wata’ala menurunkan surat ini. “katakan : wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah pada apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak menyembah apa yang kamu sembah”. Hingga akhir ayat, “untukmu agamamu, dan untukku agamaku”. Oleh sebab itu, orang musyrik dan kafir tentu berbeda dengan umat muslim, sehingga tidak bisa saling menyatu. Tidak ada saling toleransi dalam masalah agama (diin).

Faedah dari surat ini :

Wajibnya berlepas diri dari orang-orang kafir dan musyrikin serta  sesembahan-sesembahan mereka selain alloh tabaraka wata’ala.

– Wajib bagi kita untuk berlepas diri dan membenci mereka. Inilah makna dari islam. Makna islam ada 3 unsur, yaitu :

1. Berserah diri pada alloh ‘azza wa jalla dengan tauhid.

2. Tunduk dan patuh pada alloh tabaraka wata’ala dengan menjalankan ketaatan pada alloh.

3. Berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku-pelaku kesyirikan.

Al bara’ah, berlepas diri dari orang-orang musyrik dan sesembahan mereka selain alloh tabaraka wata’ala. Hal inilah yang membuat surat ini menjadi penting, yakni berisi tentang bara’ah, wajibnya berlepas diri dari orang-orang kafir dan orang musyrikin serta dari segala sesembahan mereka selain alloh tabaraka wata’ala.

Hal ini dibahas pula pada bahasan pembatal keislaman. Bahwasanya kita tidak boleh meragukan kekafiran orang-orang musyrikin dan orang-orang kafir. Terlarang pula bagi kita (umat muslim) untuk tidak mengkafirkan orang-orang musyrik maupun orang-orang kafir. Kita harus tegas bahwa kita berbeda dengan mereka. Kita adalah mukmin (muslim), dan mereka adalah kafir atau musyrik. Bagi kalian agama kalian, dan bagiku agama-ku.

Hal tersebut masuk ke dalam pembatal keislaman karena telah jelas bahwa Alloh tabaraka wata’la memerintahkan kita untuk membedakan diri dari mereka. Maka tidak ada toleransi dalam masalah ini, masalah ibadah, kita tidak bisa mengikuti ibadah mereka. Sebagaimana ajakan kaum kufar quraisy yang mengajak umat muslim menyembah sesembahan mereka selama 1 tahun, lalu begitu pula sebaliknya. Atau dalam bentuk yang lain, dengan dalih ‘cinta damai’, maka seorang muslim akan ikut pada perayaan natal, dan sebaliknya orang nashara akan ikut pada acara umat muslim. TIDAK BISA SEPERTI ITU. Karena, bagi kalian agama kalian, dan bagiku agamaku.

Maka sebagai seorang muslim, kita harus tegas. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan bahwa semua agama itu benar atau semua agama itu baik. Sebab, HANYA ISLAM YANG BENAR, DAN HANYA ISLAM YANG TERBAIK. Hal ini terdapat dalam al quran,

…إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ 

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (Ali ‘imran : 19)

Oleh karena itu, tidak bisa bersatu antara  umat muslim-nashara, muslim-yahudi, maupun muslim-musyrikin. Dari hal ini dapat diketahui bathilnya seruan ‘persatuan agama’. Dimana secara lebih spesifik propaganda itu menyerukan persatuan agama samawi (islam-nashara-yahudi). Para penyeru itu beranggapan bahwa mereka dapat ta’awun pada perkara-perkara yang mereka memiliki kesepakatan atasnya dan pada hal lain mereka saling memberi udzur, tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Maka ini adalah prinsip yang bathil.

Kita harus wala’ pada sesama kaum muslimin dan bara’ kepada orang-orang kafir. Jangan saling memberikan udzur. Ini adalah masalah agama.

Meskipun surat ini adalah surat yang pendek, tapi surat ini adalah surat yang penting, karena isinya adalah tentang wala’ dan bara’. Bahkan dalam hadits disebutkan oleh Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam bahwa wala’ dan bara’ adalah tali keimanan yang paling kuat. Sehingga seorang muslim harus memiliki wala’ (loyalitas, cinta kasih) pada sesama muslim. Harus bara’ pada orang kafir, berlepas diri dari mereka, perbuatan mereka, dan sesembahan mereka. Wallohu a’lam.

SESI TANYA JAWAB

1. tanya : bagaimana hukum bermitra dagang dengan orang non-muslim?

Boleh, karena bermitra  dagang adalah maslah dunia. Adapun yang disebutkan tadi adalah  tidak ada wala’ (loyalitas) dalam masalah agama. Adapun dalam masalah dunia, masalah perdagangan, masalah muamalah, maka boleh.  Alloh sebutkan dalam bahwa alloh tidak melarang kalian untuk berbuat baik, berbuat adil pada orang-orang kafir yang tidak memusuhi kalin karena agama kalian, tidak mengusir kalian dari rumah-rumah kalian. Maka syaratnya adalah mereka tidak memusuhi kita karena agama dan tidak mengusir kita, artinya mereka bukan orang kafir harbi. Selama dalam perdagangan ini nantinya tidak ada unsur wala’, tidak ada unsur cinta kasih pada mereka.

2. tanya : apakah orang-orang kristen protestan dan katolik termasuk ahlul kitab?

Jawab : Na’am. Mereka ahlul kitab. Yahudi dan nashara secara umum adalah ahlul kitab.

3. tanya : seputar ucapan shahabat umar ibn khattob radhiyallohu ‘anhu pada khutbahnya ketika pertama kali diangkat menjadi khalifah yaitu apabila dirinya radhiyallohu ‘anhu menyimpang maka luruskanlah dengan pedang. Benarkah seperti itu? dan apa maksudnya?

Jawab : Na’am, itu memang ucapan beliau tatkala diangkat menjadi khalifah. Maksudnya bukan dengan dibunuh. Akan tetapi maksud diluruskan dengan pedang adalah harus benar-benar dinasehati dengan benar. Sebagaimana ucapan beliau yakni taatlah jika beliau taat pada alloh, apabila beliau menyimpang maka ingatkan.

4. Tanya : apakah surat yang terbaik dibaca saat sholat adalah surat al kafirun dan al ikhlas? Penanya pernah membaca hadits yang menyebutkan demikian.

Jawab : Allohu a’lam, tidak ada riwayat semacam ini. Akan tetapi, mungkin ada beberapa contoh dari rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam, yakni ketika sebelum sholat subuh beliau membaca kedua surat tersebut. Maka boleh membaca surat lain.. Adapun perintah tidak ada.

Akan tetapi penanya mengatakan jika pernah membaca hadits yang demikian.

Jawab : Ana (ustadz) tidak tau ada hadits semacam itu, jika memang ada maka perlu dilihat siapa yang meriwayatkannya.

5. tanya : tentang sholat sunnah gerhana, apa yang harus dilakukan jika ketika gerhana sudah selesai, tapi sholat sunnah yang dilakukan masih belum selesai, misal masih pada rakaat kedua tapi gerhana sudah selesai? Apa boleh bacaannya dipendekkan?

Jawab : sholatnya tetap diselesaikan, dan dalam kondisi seperti ini boleh dipendekkan. Apalagi pada masa sekarang semua lebih mudah, sehingga dapat diperkirakan berapa lama gerhana itu. Apabila gerhana belum selesai, tapi sholat sudah selesai, maka perbanyak doa dan istigfar. Allohu a’lam.

6. tanya : tentang memandikan jenazah, tapi bukan muhrimnya.

Jawab : muhrim dan mahrom adalah berbeda. Muhrim adalah orang yang berihram, yang benar adalah mahrom.

Yang memandikan jenazah adalah laki-laki memandikan laki-laki, dan perempuan memandikan perempuan. Mahrom bukan mahrom bukan urusannya. Kecuali suami-istri atau anak-anak. Misal, suami meninggal yang memandikan istrinya, atau memandikan jenazah anak-anak. Walaupun yang meninggal adalah anak perempuannya sendiri (yang sudah baligh), bapaknya tidak boleh memandikannya. Yang memandikan harus perempuan. Ini terjadi pada rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam tatkala anaknya meninggal dunia, beliau memerintahkan shahabiyyah yang memandikan. Jika itu boleh, tentu rasul yang memandikannya sendiri.

Adapun jika yang meninggal adalah orang-orang kafir, maka yang melakukan orang kafir. Hal ini karena memandikan jenazah adalah perkara ibadah. Hukumnya fardhu kifayah, sehingga harus orang muslim. Kecuali jika tidak ada kaum muslim meninggal dunia tapi di lingkugan orang kafir (tidak ada muslim yang lain), mau bagaimana lagi. Dari sisi jenazahnya tidak masalah.

7. Jika dalam suatu wilayah tidak ada seorang laki-laki pun untuk memandikan jenazah laki-laki, karena semua penduduknya perempuan?

Jawab : Misalkan ada,misalkan ada yang seperti itu, maka bagaimana lagi, tetap harus dimandikan. Akan tetapi,harus tetap diusahakan untuk memandikan dengan mengenakan pakaiannya, auratnya tetap tertutup.

Yang paling afdhol dalam memandikan jenazah adalah menutupi aib (auratnya).

Namun demikian, sampai saat ini belum pernah dijumpai kasus semacam ini.

8. Bagaimana dengan banyaknya kejadian di kalangan masyarakat ketika ada perempuan yang meninggal, tapi tidak ada perempuan yang berani memandikan jenazahnya, yang berani hanya laki-laki?

Jawab : Kehormatan seorang muslim tetap ada walaupun ketika dia meninggal dunia, sehingga tidak boleh melihat auratnya ketika ia telah meninggal dunia, sebagaimana larangan ketika dia masih hidup. Maka seseorang tidak boleh melihat aurat lawan jenisnya (yang bukan mahrom), bahkan ketika yang dilihat itu telah meninggal. Oleh karena hal itu, seorang wanita juga harus belajar tentang tata cara memandikan jenazah, sehingga tatkala ada perempuan yang meninggal dunia, perempuanlah yang mamandikan. Jangan hanya menunggu dari laki-laki.

9. bolehkah mendoakan kejelekan pada ahlul maksiat yang meninggal dunia?

Jawab : Tidak boleh, doakanlah kebaikan. Dia sudah mati, masak didoakan keburukan. Doakan agar ia diampuni dosa-dosanya, selama dia masih muslim. Walaupun dia pelaku maksiat, tapi masih muslim, maka doakan kebaikan.

10. Bagaiamana jika ada yang meninggal dalam keadaan tubuhnya hancur, atau jika meninggal karena mengikuti perang syar’iy?

Jawab : jika badannya hancur, maka dirawat apa yang masih tersisa. Bila tidak ada yang tersisa, misal telah jadi debu, maka bagaimana lagi, maka diambil lalu di sholati dan dimakamkan.

Adapun jika dia meninggal dalam peperangan syar’iy, dalam perang kaum muslim melawan kaum kafir. Maka tidak dimandikan, langsung dikaani dengan apa yang menempel pada dirinya, dan tidak di sholati. Syaratnya, dia meninggal di peperangan yang syar’iy, perang antara muslim vs kafir.

===================================

untuk rekamannya, antum dapat merujuk pada link download rekaman tafsir al kafirun (klik)

 

semoga bermanfaat

barakallohu fiykum

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.