tempat itu, kota angin

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kota angin, pernahkah antum mendengar kota yang punya sebutan kota angin?

Kota angin adalah sebutan bagi sebuah kabupaten yang sepi di sebelah utara kabupaten kediri. Namanya kabupaten nganjuk.

Suatu ketika saya pernah membuat karangan dalam bahasa jepang saat SMA, judulnya ‘kaze no machi’ atau kota angin. Karangan itu berisi tentang keindahan kabupaten nganjuk, letak kabupaten nganjuk, serta makanan dan tempat wisata di nganjuk (tapi saya sudah lupa, dulu saya ngomong apa saja). Walau akhirnya saya tidak menang, tapi bukan masalah, setidaknya saya bisa membagi informasi pada orang lain tentang kabupaten nganjuk. Buktinya, ada seorang guru dari kabupaten bojonegoro, wilayahnya tepat di utara kabupaten nganjuk, beliau menyatakan “Saya baru tahu nganjuk disebut kota angin” (krik-krik-krik).

Mengapa Nganjuk disebut kota angin? Karena posisi nganjuk yang diapit oleh 2 gunung, gunung wilis dan gunung kendheng. Ini membuat hembusan angin yang melewati kota nganjuk menjadi kencang. Bukti lain jika nganjuk adalah kota angin adalah jika antum yang bukan orang nganjuk tiba-tiba pergi ke nganjuk (ngapain?) maka antum akan masuk angin.

Nganjuk adalah kota yang sepi, sepi dalam artian tidak seramai di gresik maupun surabaya.   Ada beberapa tempat wisata yang saya tahu, ada goa (goa apa yaa namanya?), air terjun sedudo, air merambat roro kuning, kali bening, dan taman rekreasi anjuk ladang (alias gajah kembet, yang lokasinya ada di depan SMA-ku. wkwkwk). Di nganjuk tidak ada mall, tidak ada bioskop (adanya bekas gedung bioskop mustika yang tinggal bekas dan nama saja), tidak pula supermarket yang besar (makanya 3 tahun di nganjuk tidak membuat ana jadi anak mall! orang gak ada mall).

Jika ditanya nganjuk, teman-teman yang berasal dari luar nganjuk akan langsung merujuk pada sebuah lagu (music is harom) berjudul ‘alun-alun nganjuk’. Bagaimana alun-alun nganjuk itu? Alun-alun nganjuk sekarang lebih dikenal dengan sebutan taman sunyi, dimana hanya ada sedikit pedagang kaki lima di sana. Alun-alun nganjuk mempunyai 1 monumen (kalo gak salah… dan ana jg g ngerti itu monumen alias patung itu sebenarnya patung siapa), dan di sisi timur ada lapangan basket. Mungkin tidak ada yang menarik, tapi ‘sepi’nya itu yang membuat nganjuk menjadi begitu berkesan.

Yang menarik dari kota angin bukankah wisatanya, tapi suasananya. Nganjuk berkembang sedikit demi sedikit, misalnya di rumah nenek saya dulu belum ada listrik, lalu awal 90’an listrik masuk. Di awal SMA, saat pertama kali migrasi ke nganjuk, signal HP dengan operator tertentu susah sekali, bahkan ada kalanya saya harus naik ke atas pagar untuk mendapatkan signal. Sekarang ada sedikit kemajuan, beberapa operator seluler sudah melebarkan signal-nya sampai ke tempat nenek saya.

Kota angin adalah kabupaten yang menantang. Sangat menantang. Terutama jika bersepeda sambil menantang (melawan) arus angin, maka akan terasa sekali beratnya (nyambung gak sih?). Di nganjuk tidak ada angkot (angkutan kota), adanya angkudes, bus ‘kawan kita’, dan mini bus maupun bus antar kota yang lain, ada juga kereta, serta yang paling penting di nganjuk tidak ada pelabuhan (orang gak ada lautnya).

Yang paling berkesan dari nganjuk adalah cara bicara masyarakatnya, yang terkadang tampak hiperbola, seperti cara mengucapkan kata “adoh” (bahasa indo=jauh) maka akan diucapkan menjadi, “uuuaaduoooh”. Dimana dalam kaidah bahasa jawa (?EYD ala jawa?) kata “uuuaaduoooh” artinya seperti sangat jauh sekali. Padahal “uuuaaduoooh” yang dimaksud oleh orang nganjuk adalah “adoh” atau jauh yang biasa-biasa saja. Atau kata, “bizuh-bizuh”, atau kata-kata lain yang nganjuk buanget dueehh.

Di kota angin ini, saya mulai mengenal dakwah salaf. Di sebuah masjid di dekat SMA saya, masjid muthmainnah. Atau kadang saya ta’lim di masjid al falah, atau kadang juga di TK al qudwah-kapas (kangen…). setidaknya sampai saya meninggalkan nganjuk 2 tahun lalu, yang saya tahu nganjuk itu tenang. Beberapa pekan lalu saya ke nganjuk dan suasana ta’lim tetap tidak berubah (kangenn,,,,,,,,,,,,,,)…

Sudaahhhh cerita tentang nganjuknya, awalnya saya ingin menulis tentang tempat wisata nganjuk, untuk diikutkan pada sebuah lomba menulis artikel di blog… tapi, kok jadinya begini…jadinya yaaa ndak jadiiii…. yaa sudahhh.. laa ba’sa… di post saja… daripada sia-sia… biar pembaca blog ini (siapa pembacanya?) kenal sama si kota angin..

apakah tulisan ini bermanfaat? VISIT NGANJUK 2012 (emang mau ngapain di nganjuk?)

…barakallohu fiyk…

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.