[catatan ta’lim]10 hak yang wajib ditunaikan seorang hamba

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

kajian tematik “hak-hak yang 10”

Pembicara : Al Ustadz Abu ahmad

Materi : hak-hak yang 10

Waktu : jum’at

Tempat : Masjid Abu bakr ash shiddiq. Jl. Jojoran 1 blok K no 18-20, Surabaya

Hak-Hak yang 10

Pembahasan ini terkait dengan hak-hak, yakni 10 hak yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba. Dimana 10 hak ini alloh tabaraka wata’ala sebutkan dalam 1 ayat, yakni dalam surat an nisa’ ayat 36 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُور

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”

Ayat tersebut menerangkan tentang hak-hak yang harus ditunaikan oleh seorang hamba, hak tersebut meliputi

1. Hak Alloh tabaraka wata’ala,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Disebutkan oleh As sa’di rahimahullohu ta’ala, maka dalam ayat ini Alloh memerintahkan pada hamba-hambaNYA untuk beribadah pada Alloh semata dan tidak berbuat syirik pada Alloh. dimana hal ini masuk ke dalam semua jenis peribadatan kepada Alloh. Perkara yang termasuk dalamnya meliputi : Tunduk terhadap perintah-perintah Alloh; tunduk kepada larangan Alloh (yakni dengan menjauhi laranganNYA) dengan penuh rasa cinta dan menundukkan diri kepada Alloh ta’ala serta mengikhlaskan peribadatan hanya untuk Alloh tabaraka wata’ala. Dimana perkara ini berlaku dalam semua peribadatan yang dzahirah maupun yang batinah.

Dalam ayat ini, Alloh juga melarang segala bentuk syirik, baik syirik akbar maupun syirik ashgar. Begitu pula yang disekutukan dengan Alloh tabaraka wata’ala, baik itu malaikat, wali, nabi, maupun yang selainnya. Itu semua adalah perkara yang terlarang.

Oleh karena itu, hak Alloh azza wa jalla adalah hak yang wajib secara mutlaq ditunaikan oleh seorang hamba, yaitu dengan mengikhlaskan peribadatan hanya untuk Alloh tabaraka wata’ala dan dengan tidak mensekutukan Alloh ta’ala dengan apapun. Hak ini merupakan hak terbesar yang wajib ditunaikan seorang hamba.

2. Hak makhluk

Dalam ayat ini, Alloh tabaraka wata’ala juga menyebutkan hak-hak mahluq,

Yang pertama adalah hak kedua orang tua.

…وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…

“Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa,”

Ayat ini menerangkan tentang hak yang ke-2, yakni haknya kedua orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa diantara hak-hak antar hamba, yang terbesar adalah hak orang tua. Dimana Alloh subhanahu wata’ala menyebutkannya setelah hak  Alloh, kemudian hak orang tua. Lalu, dimana hak Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam? maka dikatakan oleh syaikh Utsaimin rahimahullohu ta’ala bahwa hak Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam sudah terkandung dalam hak Alloh tabaraka wata’ala.

Disebutkan oleh As sa’di rahimahulloh, yaitu berbuat baiklah kepada mereka baik dengan ucapan yang baik ataupun perbincangan yang lembut dengan mereka, dengan perbutan yang baik. Contohnya adalah dengan melaksanakan perintah mereka dan menjauhi larangan mereka, tentunya perintah dan larangan itu tidak bertentangan dengan perintah dan larangan syariat. Selama tidak bertentangan, maka seorang hamba wajib untuk mentaati kedua orangtuanya.

Serta berinfaq pada kedua orang tua. Memeberikan nafkah kepada orangtua menjadi wajib ketika orangtuanya tidak mampu, dan anaknya mampu.

…يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak…” (Al Baqarah :215)

Yang pertama Alloh sebutkan dalam ayat tersebut adalah kedua orangtua, maka seorang anak wajib memeberikan nafkah kepada orangtuanya yang tidak mampu, sementara ia mampu.

Hal lain yang merupakan bentuk dari birrul walidain adalah memuliakan orang yang memiliki hubungan baik dengan kedua orangtua. Maka seorang anak memiliki kewajiban untuk memuliakan mereka. Seorang anak memiliki kewajiban untuk menyambung silaturrahim dengan kedua orangtuanya maupun dengan orang-orang yang memiliki hubungan baik dengan kedua orangtuanya.

Selanjutnya, dalam ayat ini seseorang diperintahkan untuk berbuat ihsan kepada kedua orangtuanya. Lawan dari ihsan (berbuat baik) ada 2 macam, yaitu…

– Berbuat buruk pada kedua orangtua, atau

– Tidak berbuat baik kepada kedua orangtua (tidak berbuat ihsan adalah bathil, walau tidak menyakiti kedua orangtuanya).

Kedua lawan dari berbuat ihsan kepada kedua orangtua tersebut merupakan perkara yang terlarang. Wallohu a’lam.

Di antara hadits yang menunjukkan pentingnya berbuat baik pada orangtua adalah hadits yang menyebutkan tentang keridhoan Alloh terletak pada ridho kedua orangtua dan murka Alloh terletak pada murka orangtua.

Hak yang ke-3

…وَبِذِي الْقُرْبَى…

“…dan karib-kerabat…”

Maksudnya, “dan berbuat ihsanlah pada dziilqurba”

Disebutkan oleh As sa’di rahimahulloh, dziilqurba dalam hal ini mencakup seluruh kerabat, seluruh kerabat yang memiliki kedekatan. Baik kerabat tersebut jauh atau dekat, selama ia masih disebut kerabat, maka ia termasuk dalam ayat ini. Yaitu dengan berbuat baik kepada mereka, baik dengan ucapan, perbuatan, serta tidak memutus hubungan dengan mereka (Baik lisan maupun perbuatan).

Hak yang ke-4

…وَالْيَتَامَى…

“…dan kepada anak yatim…”

Maksudnya adalah berbuat baiklah kepada anak yatim

Disebutkan oleh para ulama bahwa anak yatim adalah anak yang kehilangan bapaknya/ayahnya dalam kondisi ia masih kecil (belum baligh).

Kata As sa’di rahimahulloh, anak-anak yatim memiliki hak atas kaum muslimin. Baik anak yatim tersebut kerabatnya sendiri ataupun orang lain. Yaitu dengan menanggung penghidupan mereka, berbuat baik kepada mereka, menghilangkan perkara-perkara yang akan membahayakan mereka, mendidik mereka dengan pendidikan yang baik yang akan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka.

Disebutkan dalam ayat lain, bahwa kita dilarang membentak anak yatim, (ad dhuhaa ayat 9),

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ

Yang dimaksud dengan membentak dalam ayat ini adalah membentak yang dilakukan dengan kemarahan (tidak ada unsur tarbiyyah di dalamnya).

Hak yang ke-5

…وَالْمَسَاكِينِ…

“… orang-orang miskin…”

Maksudnya adalah berbuat ihsanlah pada orang-orang miskin

Kata As sa’di rahimahulloh, orang-orang miskin adalah orang yang tertimpa/memiliki kebutuhan, tapi tidak bisa memenuhi kebutuhannya dan tertimpa kefaqiran.

Para ulama mendefinisikan kat Al miskin dan al faqr, yaitu, apabila 2 kata ini disebutkan salah satunya maka mencakup keduanya, sehingga miskin mencakup faqir dan faqir mencakup miskin. Akan tetapi, jika kedua lafadz ini disebutkan dalam 1 ayat/ 1 hadits, sehingga maknanya berbeda. Maka miskin dalam kondisi ini (1 ayat dengan kata faqir) didefinisikan sebagai orang yang memiliki penghasilan tapi penghasilannya tidak cukup memenuhi kebutuhannya. Adapun faqir adalah orang-orang yang tidak memiliki penghasilan sama sekali, yang tentunya mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka. Allohu a’lam.

Salah satu dalil penguat defini ini adalah dalam firman Alloh tabaraka wata’ala dalam surat Al kahfi. Ketika Alloh mengisahkan kisah nabi Musa ‘alayhissalam dengan nabi Khidr ‘alaihissalam. tatkala mereka menaiki perahu, nabi khidr melubangi perahu tersebut, dan pada ayat-ayat selanjutnya disebutkan alasan mengapa nabi khidr melakukan hal itu.

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

“Adapun bahtera (kapal) itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut…” (Al kahfi : 79)
Ini menunjukkan jika kapal tersebut adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di lautan, dimana orang miskin tersebut memiliki kapal. Oleh karena itu, diambil faedah oleh para ulama jika orang miskin adalah orang yang memiliki penghasilan, tapi tidak mampu mencukupi kebutuhannya.
Maka dalam ayat ini kita diperintahkan untuk berbuat ihsan kepada mereka, faqir dan miskin. Dengan cara kita menutup kekurangan mereka, menghilangkan kemudharatan yang muncul dari kekurangan meraka itu, dan hendaknya seseorang melakukan (membantu) fuqara dan masakin sesuai dengan kemampuannya.

Hak ke-6

…وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى…

“… tetangga yang dekat …”

Maksudnya adalah berbuat baik kepada tetangga yang memiliki hubungan kerabat.

Disebutkan oleh As sa’di rahimahulloh, tetangga yang memiiki hubungan kekerabatan memiliki 2 hak atas kita, yaitu hak sebagai tetangga dan hak kekerabatan.

Adapun hak tetangga diantaranya tidak boleh mengganggu mereka, tidak menyakiti, diperintahkan agar kita memuliakan mereka. Ditambah lagi dengan hak kerabat (pada poin ke-3).

Hak ke-7

…وَالْجَارِ الْجُنُبِ…

“…dan tetangga yang jauh…”

Maksudnya adalah berbuat ihsan kepada tetangga jauh, yakni tetangga yang tidak memiliki hubungan kerabat  dengan kita, yaitu tetangga secara umum.

Disebutkan oleh As sa’di rahimahullohu ta’ala, maka semakin dekat tetangga itu, rumahnya dengan rumah kita, semakin ditekankan pula hak-nya atas kita. Diharuskan bagi seorang tetangga untuk memperhatikan tetangganya, baik itu bershadaqah padanya, memberi hadiah padanya, berdakwah padanya dengan penuh kelembutan, dan tidak mengganggu meraka. Baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan kita.

Terdapat banyak nash yang menganjurkan kita untuk memenuhi hak-hak tetangga. Disebutkan dari rasulullah dengan sanad yang shahih bahwa jangan sampai seseorang melarang tetangganya menanamkan paku pada tembok miliknya selama hal itu tidak memudharatkannya. Allohu a’lam.

Hak yang ke-8

…وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ…

“…teman sejawat…”

Maksudnya adalah berbuat ihsan pada teman dekat.

Untuk lafadz ayat ini, para ulama memiliki 2 penafsiran, yakni:

1. Teman ini adalah teman di dalam safar, orang yang menemani safar kita. Maka kita berkewajiban untuk berbuat ihsan kepada orang-orang yang menemani kita dalam safar, dengan berbagai macam bentuk ihsan.

2. Teman terdekat ditafsirkan dengan istri, dia adalah teman dekat bagi seorang suami. Dari makna ini, menunjukkan wajibnya seorang suami berbuat ihsan kepada istrinya dengan berbagai macam bentuk ihsan.

As sa’di rahimahullohu ta’ala menyebutkan, maka atas seorang teman bagi teman lainnya, memiliki hak tambahan selain sebatas ia sebagai seorang muslim. Yakni membantu dia dalam perkara dunia dan agamanya. Begitu pula bagi seorang suami terhadap istrinya, seorang suami wajib membantu perkara dunia istrinya, apalagi dalam perkara agamanya. Dimana hal ini terkadang terlewatkan oleh seorang suami.

Mari melihat contoh dari Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam, ketika para shahabat bertanya pada ‘Aisyah radhiyallohu ta’ala ‘anha tentang apa yang Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam lakukan di rumahnya, beliau sebutkan bahwa rasulullah disibukkan oleh pekerjaan rumah, bahkan Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam biasa menjahit pakaiannya sendiri. Dimana seharusnya, ini adalah kewajiban seorang istri. Akan tetapi, Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam membantu istrinya dalam perkara-perkara yang demikian ini. Hal yang seperti ini, dapat memperbaiki dan memperkuat hubungan antara suami dan istri. Seorang istri membutuhkan bantuan dari suaminya sebagaimana suami membutuhkan bantuan istrinya.

Dan menasehatinya, memenuhi janji padanya, bersama dengannya tatkala senang dan susah, serta dalam keadaan semangat ataupun tidak semagat. Ini merupakan konsekuensi dari seorang teman dekat. Baik itu bagi seorang teman dengan temannya, maupun antara suami dengan istrinya.

Dan hendaknya ia mencintai untuk dia apa yang ia cintai untuk dirinya dari perkara kebaikan. Maka apabila kita mencintai suatu perkara kebaikan, maka hendaknya kita harus cinta pula jika kebaikan itu ada pada teman kita.

Ini disebutkan dalam hadits rasulullah,

“tidak beriman seseorang, sampai ia menyukai untuk saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya dari perkara-perkara kebaikan.”

Tentunya hal ini menafikan hal yang meyenangi kejelekan untuk saudaranya, hendaknya seorang mukmin menyenangi kebaikan untuk saudaranya. Apabila kita senang kebaikan dalam perkara duniawiyah maupun ukhrawiyah, maka hendaknya kita juga senang jika teman kita mendapatkan kebaikan itu. Oleh karena ini, seseorang akan dapat menjadi semangat dalam menyampaikan kebaikan kepada teman-temannya. Ia akan menginginkan temannya menjadi baik seperti dirinya, ia tak akan membiarkan tatkala terjadi penyimpangan, dan tidak menjerumuskannya, serta ia akan menasehatinya.

Dan ia akan membenci perkara-perkara yang tidak ia sukai menimpa saudara atau teman-temannya. Jika kita tidak suka sesuatu menimpa diri kita, maka seharusnya kita juga tidak suka apabila  hal itu menimpa teman kita atau saudara kita. Misalnya kita tidak suka kebodohan, maka seharusnya kita juga tidak suka jika kebodohan itu menimpa teman kita.

Semakin dekat pertemanan, maka semakin ditekankan hak ini.

Hak yang ke-9

…وَابْنِ السَّبِيلِ…

“…ibnu sabil…”

Maksudnya adalah berbuat ihsan kepada ibnu sabil.

Ibnu sabil di sini adalah orang asing yang tidak berada di negerinya sendiri, baik ia butuh ataupun tidak. Maka seorang muslim wajib memenuhi apa yang mereka butuhkan. Apabila mereka tidak butuh karena bekal mereka sudah cukup maka seorang muslim tetap berkewajiban untuk membantu mereka. Terlebih lagi, mayoritas kondisi ibnu sabil (orang asing) adalah memerlukan bantuan.

Maka baginya (ibnu sabil) memiliki hak atas kaum muslimin karena mereka membutuhkan bantuan atau karena mereka sedang berada di negeri yang asing yang mereka butuh bantuan untuk sampai pada tempat tujuan mereka. Serta dengan memuliakannya di tempat tersebut.

Hak ke-10

…وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ…

“…dan hamba sahayamu…”

Dapat diartikan pula dengan apa saja yang kamu miliki, sehingga maksudnya adalah berbuat ihsan kepada apa saja yang kamu miliki.

Kata As sa’di rahimahullahu ta’ala, baik yang dimiliki berupa manusia (budak) maupun berupa hewan-hewan.

Yaitu kewajiban kita atas mereka adalah berusaha sekuat tenaga menanggung mereka, tidak membebani mereka dengan perkara yang berat, membantu mereka, serta mendidik mereka dalam perkara-perkara yang bermanfaat untuk mereka. Perkara ini adalah terkait manusia-manusia yang dimiliki seseorang (budak). Islam telah memiliki hukum-hukum terkait dengan perbudakan. Diantaranya, tidak boleh membebani budak dengan perkara yang tidak mampu dibawanya, membantu mereka jika mereka butuh bantuan, dan mendidik mereka untuk perkara-perkara yang bermanfaat bagi mereka.

Terkait dengan binatang yang menjadi milik kita atau binatang ternak, mereka memiliki hak atas kita. Yakni hak untuk kita perhatikan kebutuhannya, meliputi makannya, minumnya. Apalagi jika hewan-hewan itu dikurung. Maka seorang muslim semakin wajib memenuhi hewan-hewan yang ia pelihara tersebut.

Disebutkan di akhir ayat…

إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا…

“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”

Alloh tabaraka wata’ala tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri, yang tidak memenuhi hak-hak yang disebutkan di atas. Baik hak pertama, maupun hingga hak yang ke-10.

Terkait hak pertama, hak Alloh tabaraka wata’ala. Terdapat ancaman yang keras apabila seseorang tidak memenuhi hak Alloh subhanahu wata’ala tersebut. Misalnya dengan berbuat syirik. Dimana Alloh subhanahu wata’ala tidak akan mengampuni dosa syirik, dan barang siapa berbuat syirik, Alloh mengharamkan baginya jannah.

Terkait dengan hak ke-2. Hak kepada kedua orang tua. Maka besar kemurkaan Alloh bagi orang yang tidak memenuhi hak kedua orang tuanya. Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa kemurkaan Alloh ta’ala tergantung pada kemurkaan kedua orang tuanya.

Terkait dengan hak kerabat  (hak ke-3). Telah terdapat hadits dari Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam bahwa tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturrahim, tali kekerabatan.

Begitu pula dengan anak yatim, orang miskin, tetangga dengan hubungan kerabat, tetangga yang tidak ada hubungan kekerabatan, teman dekat, ibnu sabil, dan apa-apa yang dimiliki seorang muslim. Dimana ia akan memperoleh adzab yang keras apabila ia tidak mau memenuhi hak-hak tersebut.

Terkait dengan hak terakhir, hak hewan-hewan yang dimiliki, terdapat hadits yang menunjukkan adanya ancaman yang keras apabila seseorang tidak menunaikannya. Yakni, bahwa terdapat seorang wanita masuk ke dalam neraka karena seekor kucing. Dimana ia menahan kucing itu, tanpa diberi makan, dan tanpa diberi minum, sampai kucing itu mati.

Oleh karena itu, seorang muslim wajib menunaikan hak-hak tersebut, walaupun itu adalah hak hewan. Apabila tidak bisa memenuhi hak-nya (hewan itu), maka lepaslah, biarkan ia mencari makan sendiri, sehingga kita tidak mendzalimi mereka.

SESI TANYA JAWAB

Yang dibahas dalam poin-poin tadi adalah hak-hak secara umum. Adapun hak hak secara rinci tidak dibahas pada bab ini. Kemudian, untuk beberapa perkara tertentu, maka perlu dirinci lagi, dan tidak dibahas pada bab ini. Misalnya terkait tetangga yang kafir, tetangga yang merupakan ahlul ahwa wal bida’, ketaatan pada orang tua jika dalam perkara maksiat, dll. Dimana semua perlu dirinci lagi, dan pembahasan ini adalah pembahasan secara umum.

source : rekaman ta’lim ana

…cmiiw…

Semoga Bermanfaat.

باركالله فيكم

nb : untuk mendownload rekaman kajiannya, antum dapat merujuk pada tulisan yang berjudul ‘[download]10 hak yang wajib ditunaikan seorang hamba‘ (klik) pada blog ini.

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.