[catatan ta’lim] ikhlas dan azzam dalam do’a

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

kitab : adabul mufrod

pemateri : Ustadz Afifuddin As-Sidawy

tempat/waktu : masjid abu bakr ash shidiq jojoran/ jum’at, 20 juli 2012

Bab 274. Bab doa yang nakhilah

Nakhilah adalah doa yang murni, hanya dipersembahkan untuk alloh subhanahu wata’ala semata. Hanya diperdengarkan untuk alloh ta’ala. Ia tidak ingin doanya didengar orang lain.

Bab ini menjelaskan bab doa yang di dalamnya terdapat unsur keihlasan dan tidak ada unsur sum’ah (ingin didengar orang lain).

Faedah yang dapat diambil dari bab ini adalah keutamaan doa yang hanya diperuntukkan  untuk alloh tabarakawata’ala, dimana di dalamnya tidak trdapat unsur sum’ah, riya’.

Berita dari rabi’ ibn khusaim kepada al qamah (al qamah adalah murid abdulloh ibn mas’ud radhiyallohu ‘anhu), bahwa banyak orang yang berdoa. Akan tetapi sangat sedikit doa yang dikabulkan oleh alloh subhanahu wata’ala, karena alloh tabarakawata’ala tidak menerima doa, melainkan doa yang nakhilah (doa yang hanya diperdngarkan kepada alloh, tidak ada unsur sum’ah). Kemudian abdurrahman bin yazid berkata jika abdulloh bin mas’ud juga pernah mengatakan seperti itu, yakni abdulloh bin mas’ud radhiyallohu ‘anhu berkata “alloh tabarakawata’ala tidaklah mendengar doa orang yang musmi’ (musmi’ adalah doa yang dilakukan dengan tujuan agar didengar orang lain/ sum’ah) alloh subhanahu wata’ala tidak mendengar doanya orang yang riya’, tidak pula doanya orang yang main-main. Kecuali seseorang yang berdoa, doa yang doa itu tumbuh dari hatinya (doa yang tulus ikhlas).” Ini adalah atsar ibnu mas’ud dan berita dari rabi’ ibn khusaim dengan sanad yang shahih. Al imam bukhary membawakan atsar ini karena rabi’ ibn khusaim, yakni karena penelitian yang dilakukan oleh rabi’ ibn khusaim.

Rabi’ ibn khusaim mencermati begitu banyak orang yang berdoa, tapi sangat sedikit doa yang dikabulkan. Ternyata, mayoritas orang yang berdoa itu, doanya tidak ada unsur keihlasan. Dimana mereka berdoa tapi riya’, mereka berdoa tapi sum’ah, mereka berdoa tapi syuhrah (ingin masyur) di kalangan orang lain. Bahwa ia ingin tampak dirinya seperti orang shalih, ahli dzikir, dll.

Hal tersebut menunjukkan bahwa diantara ketentuan makbulnya doa adalah doa itu harus tulus ikhlas. Tidak ada tendensi riya’, sum’ah, syuhrah, serta tidak ada unsur main-main. Ini dikarenakan doa adalah ibadah, yakni inti dari ibadah itu sendiri. Dimana syarat ibadah diterima oleh alloh adalah ikhlas untuk alloh subhanahu wata’ala dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam.

Maka doa-doa yang tidak ada kejujuran, tanpa kesungguhan, doa tapi hatinya kosong, doa yang ke sana kemari pikirannya, doa karena riya’, sum’ah, syuhrah tidak akan dikabulkan.

Maka, penghalang dikabulkannya doa adalah riya’, sum’ah, syuhrah, dan main-main. Selain itu, diantara penyebab trhalangnya doa adalah makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram. Sebagaimana hadits rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh muslim dari shahabat abu hurairah radhiyallohu ‘anhu tentang seorang laki-laki yang telah lama safar, berdebu, kusut masai, ia mngangkat tangan ke langit dan berkata “yaa rabbi yaa rabbi” (menunjukkan 5 sebab sekaligus doa dapat dikabulkan, yaitu : safar, kusut masai, berdebu, mengangkat tangan, dan menyebut nama alloh tabaraka wata’ala) tapi makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.

Namun demikian, doa seseorang tidak serta merta langsung dikabulkan oleh alloh subhanahu wata’ala. Doa akan dikatakan makbul jika adab-adabnya diperhatikan, dan tidak ada faktor penghalangnya. Ketika terpenuhi persyaratan dan tidak ada faktor penghalang, maka doa trsebut akan diterima oleh alloh ‘azza wa jalla. Dan itulah yang disebut doa yang nakhilah (murni untuk alloh subhanahu wata’ala).

Pada bulan ramadhan banyak waktu waktu dan tempat terkabulnya doa, maka hendaknya dimaksimalkan.

selanjutnya…

Bab hendaklah seseorang memiliki tekad, azzam kuat dalam doanya, tetap tidak ada  yang memaksa alloh.

Maksudnya adalah seperti berdoa tapi mengatakan “insyi’ta”/ jika alloh mnghendaki. Ini menunjukkan azzam yang kurang dalam berdoa. Akan tetapi, engkau berdoa pada dzat yang maha kuasa, maha memiliki segalanya, maka jangan loyo. Maka perhatikanlah adab berdoa, yakni berdoa dengan penuh kemantapan, berdoa dengan azzam yang kuat. Apapun doa yang diminta, apapun yang diinginkan.

Doa dengan “insyi’ta” (jika menghendaki) samadengan ia meyakini jika alloh itu tidak maha kaya, tidak maha kuasa atas segala sesuatu. Ini justru pelecehan terhadap alloh tabaraka wata’ala.

Dalilnya adalah hadits tentang sabda rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam bahwa, jika kalian berdoa, jangan mengatakan “insyi’ta”. Hendaklah ia memiliki azzam, ketegasan, dalam memohon pada alloh ‘azza wa jalla. Hendaklah ia memperbesar harapannya. Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang susah, yang agung bagi alloh, alloh akan mudah memberikannya (kinginannya) padanya. Hadits ini dikeluarkana oleh bukhary-muslim dalam shahih masing-masing nya dari shahabat abu hurairah radhiyallohu ‘anhu.

Serta hadits yang semakna juga terdapat dalam hadits dari anas bin malik. Yang terdapat dalam shahih bukhary-muslim.

Berazzamlah dengan kuat ketika berdoa ada alloh, karena tidak ada sesuatu pun yang besar bagi alloh tabaraka wata’ala. Tidak ada satu permohonan pun yang besar bagi alloh ‘azza wajalla. Semuanya adalah mudah bagi alloh.

Seperti dalam hadits qudsi tentang apabila seluruh manusia dan jin kumpul jadi satu dari yang paling awal hingga akhir, kemudian semuanya berdoa pada alloh tabarraka wata’ala. Maka alloh subhanahu wata’ala akan mengabulkan semuanya. Dan tidak akan mengurangi apa-apa yang dimiliki alloh melainkan seperti jarum yang dicelupkan ke samudra luas lalu diangkat, maka yang berkurang hanyalah seperti air yang menempel pada jarum itu.

Hal seperti ini, yakni berazzam dengan kuat, bersungguh sungguh adalah hanya berlaku pada alloh ‘azza wa jalla. Yakni semakin seseorang memelas kepada alloh subhanahu wata’ala, bersungguh-sungguh meminta kepada alloh maka semakin sempurna doa dia kepada alloh tabaraka wata’ala. Semakin sempurna ubuddiyah dia kepada alloh. Adapun dengan mahluq, maka berbeda.

Adapun jika trkait dengan mahluq, maka ada adabnya, yakni dengan insyi’ta (jika berkehendak) tersebut.

Azzam yang kuat berlaku pada semua jenis doa, baik doa seorang wanita maupun laki-laki. Dimana ini merupakan sebab trkabulnya doa.

Faedah dari hal ini adalah rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam mengajarkan…

Apapun masalah kita, maka mintalah kepada alloh tabaraa wata’ala. Karena ini adalah bentuk butuhnya mahluq pada alloh, bentuk merendahnya mahluq kepada alloh subhanahu wata’ala. Semakin seorang hamba melakukan ini, maka semakin tinggi kedudukan hamba tersebut di sisi alloh, dan insyaa alloh semakin mudah urusannya. Dikarenakan alloh ‘azza wa jalla itu maha kaya, maha kuasa atas segala sesuatu. Semua akan mudah jika ia kembalikan semuanya kepada alloh tabaraka wata’ala.

Masing-masing manusia memiliki masalah, maka kembalikan semua pada alloh, panjatkan semua pada alloh, serahkan pada alloh tabaraka wata’ala. Semua masalah, kembalikan pada alloh dengan azzam yang sangat kepada alloh subhanahu wata’ala.

…sesi tanya jawab…

— tentang anjuran untuk berdoa dengan lengkap…

Misalnya, ketika berdoa meminta semata-mata limpahan harta dan kelapangan rizki, maka doa yang seperti adalah doa yang kurang lengkap. Akhirnya, akan kepikiran lagi… “bagaimana jika rizkinya itu menjadi musibah?”.

Oleh karena itu, berdoalah dengan lengkap (agar tidak kepikiran), “yaa alloh berikanlah aku rizki yang halal, yang thayyib, yang barakah”

maka… selesai, tidak ada yang jelek dan tidak ada yang kurang. Sehingga tidak perlu mengatakan insyi’ta, tapi tetap berazzam kuat dan komplit.

Setiap doa haruslah disertai dengan embel-embel kemanfaatan. Mengapa? Agar tidak kepikiran.

— tentang kaitan antara doa dan taqdir…

Tidak bertentangan antara doa dan taqdir. Taqdir itu kita imani, sedangkan doa itu kita ikhtiari.

Taqdir berkaitan dengan pembahasan keimanan, dan doa terkait dengan bab syariat. Maka taqdir kita imani, sedangkan syariat kita amalkan (ikhtiari) dalam bentuk doa.

Apapun yang kita mohon, apapun yang kita panjatkan. Tidak lepas dari taqdir alloh tabaraka wata’la. Semua sesuai dengan taqdir alloh.

Lalu… Mengapa berdoa??

karena… Masalahnya, kita tidak mengetahui taqdirnya kita. Masing-masing kita tidak mengetahui taqdir kita.

Misal : ketika kaya, akankah selalu kaya atau akan miskin. Ketika miskin, akankah terus miskin atau akan kaya?

Karena ketidaktahuan itulah, ada perintah untuk perintah berikhtiar dengan berdoa. Maka keduanya harus ada.

Iman kepada taqdir merupakan salah satu diantara upaya untuk memperkuat azzam dalam doa. Yakni mantab jika semua adalah taqdirnya alloh, namun doa adalah ikhtiar secara syariat, insyaa alloh ini yang lebih baik.

Adapun hadits yang mengatakan, “tidak ada yang menolak taqdir kecuali doa”. Maknanya adalah…

…yang dimaksudkan taqdir dalam hal ini bukan yang ada di lauh mahfudz. Akan tetapi, tulisannya (catatan) para malaikat. Ini yang bisa berubah, dengan doa yang dipanjatkan oleh mahluq pada alloh tabaraka wata’ala, doa dapat mengubah apa yang ditulis oleh malaikat (ditulis secara harian). Akan tetapi, itu semua telah ada di lauh mahfudz, yakni ketika ia berdoa, kemudian diganti, dan seterusnya. Dimana semua tidak akan luput dari yang tertulis di lauh mahfudz.

Penulisan taqdir ada beberapa macam,

Yang pertama adalah pnulisan taqdir secara total dan keseluruhan, ini sudah selesai. Ketika alloh menciptakan pena (qolam), alloh memerintahkannya untuk menulis semua yang trjadi hingga yaumul qiyamah. Ini sudah ditulis, dan tidak ada satu pun yang meleset darinya.

Ada lagi penulisan taqdir tahunan, ada pula peenulisan taqdir yaumi (taqdir harian).

Adapun yang bisa berubah adalah taqdir yaumi (harian) yang ditulis oleh para malaikat pncatat amal.

Seperti apa yang terdapat dalam al quran, yakni “alloh menghapuskan apa yang alloh kehendaki dan menetapkan apa yang alloh kehendaki. Dan di sisi alloh induknya kitab (lauh mahfudz)”.

Yang dihapus dan dibiarkan adalah taqdir yaumi, taqdir yang ditulis oleh para malaikat pencatat amal. Diantara yang bisa mengubahnya adalah alloh ‘azza wa jalla sendiri, doa seorang hamba, dan lain-lain. Dimana semua itu tidak akan luput dari lauh mahfudz.

Intinya, dalam hal taqdir, kita hanya diperintahkan untuk mengimaninya (mengimani taqdir). Di sisi lain, kita punya tanggung jawab syariat. Taqdir kita imani, dan syariat kita amalkan. Ini adalah prinsip kaum muslimin.

Jangan hanya fokus kepada taqdir, dan lupa pada syariat. Atau fokus ada syariat, tapi lupa pada taqdir. Akan tetapi, taqdir harus diimani, dan syariat diamalkan sesuai dengan bimbingan alloh dan rasulnya shalallohu ‘alaihi wasallam.

Wallohu ta’ala a’lamu bish showab.

sumber : rekaman ta’lim ana.

cmiiw.

semoga bermanfaat

باركالله فيكم

note : sesuai janji ana pada saudariku, ukhty asiyah bintu abi fajr,dan ummu sumayyah. uhibbukum fillah. jazaakumullahu khayr wa barakallohu fiykum.

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.