[catatan resensi] buku mayat-mayat cinta

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

 

buku mayat-mayat cinta, adalah sebuah buku yang telah saya ketahui keberadaannya secara tidak sengaja saat kelas 11 SMA, ketika seorang kawan membawanya ke sekolah dengan kondisi lucek kucel. teman saya bilang, “ini punya teman saya…”. bukunya sudah tak tampak baru, saat itu saya hanya membayangkan kira-kira berapa mil jarak yang telah ditempuh si buku hingga dia lewat di depan mata saya dalam kondisi seperti itu.

judulnya sedikit ekstreem, apalagi gambarnya. akan tetapi, dulu, saya sempat sedikit membukanya… tenyata bukan novel, ya sudah, tutup buku.

 

qadarulloh, sejak saat itu, saya belum sempat membacanya lagi… sampai sekarang…

 

kini, saat blogwalking bertemu dengan resensi buku tersebut, dulu mungkin  saya belum berminat membacanya, tapi setelah membaca resensi tersebut, saya jadi ingin baca. qadarulloh setelah menjelajah ke beberapa situs toko buku online statusnya, “sold out”…

berikut adalah resensi dari buku tersebut…

Resensi Buku Mayat-Mayat Cinta

Oleh Abu Maulid

“Wahai Adinda,…

Kupersembahkan hidup dan matiku,… Hanya untuk-Mu

Bila engkau mati,… Aku pun mati”

Seorang pemuda yang sangat mencitai istrinya,…

Ketika sang isteri jatuh sakit, semakin parah sakitnya hingga meninggal dunia.

Hati pemuda itu hancur,… kacau,… sedih,…

Tidak tahu apa yang harus diperbuat,…

Dikarenakan cintanya yang sangat mendalam

Penderitaanya semakin perih,…

Dia merana dan menderita,…

Pada akhirnya dia memilih jalan pintas untuk menyusul sang istri tercinta karena frustasi ditinggal istrinya, iapun nekat menghabisi nyawanya dengan cara menenggak racun serangga. (MMC, hlm. 176)

***

Demikian kisah tragis yang menimpa pasangan pengantin baru yang saling mencintai. Demi kecintaan yang mendalam kepada istrinya, dia nekad menenggak racun serangga untuk menghabisi nyawanya sendiri. Sangat menyedihkan.

Cerita di atas adalah penggalan kisah yang terdapat dalam buku Mayat-Mayat Cinta karya Al-Ustadz ‘Amr bin Suroif Al-Indunisy. Buku ini mengulas masalah mahabbah ‘rasa cinta’ dalam pandangan agama disertai contoh kisah percintaan antara pemuda-pemudi yang terseret ke dalam lembah maksiat dan kesyirikan, sebagaimana yang dikatakan penulis dalam mukadimah (hlm. 17—18),
“Buku ini juga menegur kepada para pemuda dan pemudi yang mereka banyak terjatuh kepada jurang kesyirikan dan kemaksiatan dalam bercinta, sehingga ia memuja perempuan yang ia senangi, hal ini disebabkan karena akalnya sudah hilang dan mabuk kepayang kepada orang yang ia cintai hingga kecintaannya menyamai bahkan melebihi kecintaannya kepada Allah subhanallahu wa ta’ala.”

Penulis terlebih dahulu memulai bukunya dengan menjelaskan makna dan hakikat penciptaan manusia dan jin. Setelah itu, penulis masuk kepada pembahasan mahabbah dan unsur-unsur yang ada di dalamnya, di antaranya macam-macam cinta dan tingkatan-tingkatannya, munculnya Al-‘Isyq ‘sikap belebihan terhadap raca cinta’ dan penyebabnya. Tidak lupa, penulis berusaha memberikan solusi, berupa obat dan terapinya, bagi manusia yang terjatuh ke dalam penyakit ‘isyq. Solusi dan terapi tersebut penulis ambil dari Alquran dan hadits Nabi yang shahih. Penulis menyusun pembahasan buku ini dengan baik dan ilmiah, disertai dalil-dalil dari Alquran dan hadist shahih serta perkataan para ulama, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al-Imam Ibnul Qayyim, dan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahumullah-.

Selain itu, setelah pembahasan solusi dan terapi, penulis menambahkan kisah orang-orang bertakwa yang terhindar dari godaan wanita. Berlawanan dengan itu, penulis sebutkan kisah para hamba yang terjatuh ke dalam pelukan cinta yang melenakan. Mereka mengakhiri hidupnya karena frustasi ditinggal pergi pasangan hidupnya. Mereka adalah Mayat-Mayat Cinta. Pada akhir pembahasan, penulis mengkhususkan tulisan berupa nasihat kepada Habiburrahman El-Shirazy, pengarang novel Ayat-Ayat Cinta.

Beberapa hal dari Buku Mayat-Mayat Cinta

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari selebaran dan internet, buku Mayat-Mayat Cinta (MMC) ini ditujukan untuk membantah novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Setelah saya baca, memang demikian kenyataannya. Judul dan cover buku ini pun dibuat mirip dengan judul dan cover novel AAC. Ada beberapa nukilan dari AAC, kemudian dibantah MMC dan disebutkan letak kesalahannya. Ini bagus, insya Allah. Diharapkan dari sini, pembaca atau kaum muslimin secara khusus mengetahui kesalahan-kesalahan dalam novel tersebut, yakni berupa talbis (pengaburan) kebenaran dari kebatilan. Bahkan, sampai kepada tingkatan kesyirikan. Sebagaimana tampak pada nukilan berikut:

Di dalam novel yang kamu tulis terdapat ungkapan yang berlebihan bahkan sampai tingkatan kesyirikan seperti :

Ucapan seorang wanita: “… saat kau baca suratku anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku pedamu yang tiada taranya”. (Novel AAC hal. 165)

“… Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jeadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang saleh…” (Novel AA C hal. 166)

Dan ucapan “Seorang santri salaf yang belajar talaqqi Qiro’ah sab’ah”. Berkata kepada istrinya :

“Cintaku kepadamu seperti cintanya seorang penyembah kepada sesembahannya” (Novel AAC hal. 382).

(MMC, hlm. 225)

Setelah mengetahui kesalahan yang teranggap fatal dalam novel AAC, hendaknya kita semua memohon ampun kepada Allah, berlindung kepada-Nya dari syubhat dan kesyirikan, dan tidak memandang sesuatu yang jelek menjadi hal yang lumrah atau bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang benar. Allahul musta’an ‘Allahlah sebaik-baik tempat memohon pertolongan’.

Namun, sepertinya ada yang terlewatkan oleh penulis, yakni tidak menjelaskan hukum zatnya. Maksud saya, penulis tidak menjelaskan hukum novel itu sendiri. Padahal ini yang justru penting di dalam buku bantahan/koreksi tersebut. Dengan tidak menyinggung sisi zatnya, ini memungkinkan penafsiran dari pembaca bahwa novel boleh hukumnya, mungkin dengan dalih sebagai sarana dakwah. Novel adalah cerita fiksi. Cerita fiksi, dengan niat sebaik apa pun—termasuk untuk “berdakwah”, tetaplah kedustaan. Terlebih jika novel tersebut mengandung hal-hal yang dapt merusak akidah kaum muslimin. Maka hal ini lebih terlarang lagi.

Dari sisi ejaan dan komposisi bahasa, buku MMC masih sangat perlu untuk direvisi atau diperbaiki. Masih banyak kesalahan ejaan yang mengakibatkan salah penafsiran atau minimal—bagi editor—harus mengernyitkan dahi untuk dapat memahami makna kalimatnya. Ini saya temui di beberapa tempat pada buku MMC (sengaja tidak saya nukil karena waktu yang terbatas). Namun, kesalahan seperti ini wajar pada sebuah buku edisi perdana.

Kesimpulan, buku MMC ini sangat bagus untuk dibaca, terutama bagi mereka yang hatinya sedang “sakit” dilanda asmara cinta. Buku ini juga memberikan faedah mengenai hakikat cinta yang benar dipandang dari sisi syariat.

Penulis : Amr Bin Suroif Al-Indunisy

Ukuran : 14 x 20 cm

Jml. Hlm. : 240 hal

Cover : Art Paper 230 gr + Emboss + UV

Kertas isi : 70 gr

Harga : Rp. 40.000

 

source : http://hanifatunnisaa.wordpress.com/2012/06/19/resensi-buku-mayat-mayat-cinta/

 

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s