[catatan ta’lim] Larangan menjadikan Alloh sebagai perantara kepada makhlukNya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 Kitabut Tauhid

(Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi)

Masjid Abu Bakr Ash-Shiddiq  -Ustadz Abul Hasan As-Sidawy-

Bab 65

Larangan menjadikan Alloh sebagai perantara kepada makhlukNya

Diriwayatkan dari jubair bin mut’im radhiallahu’anhu bahwa ada seorang badui datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dengan mengatakan : “ya Rasulullah, orang-orang pada kehabisan tenaga, anak istri kelaparan, dan harta benda pada musnah, maka mintalah siraman hujan untuk kami kepada rabbmu, sungguh kami menjadikan allah sebagai perantara kepadamu, dan kami menjadikanmu sebagai perantara kepada allah”. Maka nabi bersabda :

سبحان الله، سبحان الله “، فما زال يسبح حتى عرف ذلك في وجوه أصحابه، ثم قال :” ويحك ! أتدري ما الله ؟ إن شأن الله أعظم من ذلك، إنه لا يستشفع بالله على أحد ” وذكر الحديث. رواه أبو داود.

          “maha suci allah, maha suci allah” – beliau masih terus bertasbih sampai nampak pada wajah para sahabat (perasaan takut  karena kamaranhan beliau), kemudian beliau bersabda : “kasihanilah dirimu, tahukah kalian siapa allah itu ? Sungguh kedudukan allah subhanahu wata’ala itu jauh lebih agung dari pada yang demikian itu, sesungguhnya tidak dibenarkan allah dijadikan sebagai perantara kepada siapapun dari makhlukNya.” (hr. Abu daud).

Bab ini menjelaskan akan adanya adab pada sesama kaum muslimin, yakni tidak boleh menjadikan Alloh subhanahu wata’ala sebagai pemberi syafaat (perantara).

Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui apa arti dari kata syafaat. Maksud dari kata asy syafaat adalah menjadikan orang lain sebagai perantara untuk mendapatkan kemanfaatan atau menghilangkan mara bahaya.

Asy syafaat memiliki 3 unsur, yaitu :

1. Asy syafi’u, yakni orang yang menjadi perantara atau yang akan memberikan syafaat.

2. Al masyfu’ullah, yakni orang yang diharapkan akan mendapat syafaat padanya

3. Al mustasyfi’, yakni orang yang meminta/mengharapkan syafaat.

Dalam perkara ini, manusia dilarang menjadikan Alloh ‘azza wa jalla sebagai asy syafi’, yakni menjadikan  Alloh tabaraka wata’ala sebagai perantara untuk kebutuhan kepada mahluq.

Mengapa perkara ini dilarang? Karena hal tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa seseorang yang meminta syafaat pada Alloh telah merendahkan martabat Alloh tabaraka wata’ala dibandingkan dengan mahluq yang menjadi masyfu’ullah.

Pembahasan hadits

Dalam hadits yang telah disebut di atas, terdapat 3 hal yang diinginkan oleh orang arab badui yang datang menemui Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam. Dimana 2 dari tiga permintaan tersebut adalah perkara yang diperbolehkan oleh Rasulullah, sedangkan 1 perkara yang lain adalah perkara yang diingkari oleh Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam.

3 perkara tersebut adalah,

1. Orang arab badui meminta pada Rasulullaah untuk meminta pada rabb-nya agar Alloh ‘azza wa jalla menurunkan hujan untuk mereka.

2. Orang arab badui menjadikan Alloh tabaraka wata’ala sebagai perantara antara dia dengan Rasulullah

3. Orang arab badui menjadikan Rasulullah sebagai perantara untuk meminta kepada Alloh tabarakawata’ala.

Dari 3 poin tersebut, perkara yang diingkari oleh Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam adalah perkara pada poin ke-2. Yakni ketika orang arab badui mejadikan Alloh tabaraka wata’ala sebagai perantara antara dia dengan Rasulullah. Hal ini dapat dilihat dari kelanjutan hadits yang menunjukkan sabda Rasul setelah mendengar ucapan tersebut,

          “maha suci allah, maha suci allah” – beliau masih terus bertasbih sampai nampak pada wajah para sahabat (perasaan takut  karena kamaranhan beliau),…”

Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam terus bertasbih, “subhanalloh, subhanalloh (maha suci Alloh), hingga para shahabat mendapati bahwa Rasulullah telah menunjukkan suatu pengingkaran.

Kemudian beliau bersabda : “kasihanilah dirimu, tahukah kalian siapa allah  itu ? Sungguh kedudukan Alloh subhanahu wata’ala itu jauh lebih agung dari pada yang demikian itu, sesungguhnya tidak dibenarkan allah dijadikan sebagai perantara kepada siapapun dari makhluknya.”

(hadits diriwayatkan oleh  Abu Daud dengan sanad hasan)

Faedah dari hadits

1. Dalam hadits ini terdapat pengingkaran dari Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam terhadap ucapan seorang arab badui yang menjadikan Alloh ‘azza wa jalla sebagai perantara antara dirinya dengan Rasul.

2.  Dalam bab ini diterangkan bagaimana sikap Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam tatkala mendengar ucapan orang arab badui tersebut (ucapan menjadikan Alloh sebagai syafaat/perantara), sehingga para shahabat mengetahuinya.

Ini menunjukkan salah satu sifat yang dimiliki oleh Rasulullah, serta menunjukkan adanya kedekatan antara para shahabat radhiyallohu ‘anhuma dengan Rasulullah shalallohu ‘alai wasallam. Oleh karena itu, mereka dapat memahami bagaimana maksud sikap Rasulullah shalalloh ‘alaihi wasallam.

Selain itu, bab ini juga menunjukkan bahwa kalimat tasbih (سبحان الله) bisa digunakan untuk menyatakan pengingkaran terhadap sesuatu, walau secara umum kalimat ini disunnahkan untuk diucapkan tatkala melihat sesuatu yang indah.

Peristiwa semacam ini (Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam mengingkari sesuatu dengan mengucapkan tasbih) juga terjadi tatkala ada shahabat, yang baru masuk islam yang dalam diri shahabat tersebut masih ada bekas kesyirikannya dahulu, meminta pada Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam untuk dibuatkan pohon keramat seperti kaum musyrikin agar senjata mereka menjadi sakti.

Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “subhanalloh, sungguh itu adalah warisan umat terdahulu.”

(subhanalloh menunjukkan pengingkaran, sebab telah nampak jelas apabila apa yang diminta oleh shahabat yang baru masuk islam tersebut adalah bentuk kesyirikan dan haram dalam syariat islam. -pen)

3. Dalam hadits ini, Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari ucapan orang arab badui yang meminta Rasulullah sebagai perantaranya kepada Alloh ‘azza wa jalla.

Ucapan ini diperbolehkan sebab pada masa itu Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam masih hidup. Oleh karena itu, diperbolehkan untuk menjadikan orang shalih yang masih hidup untuk menjadi perantara (meminta syafaat) antara dirinya dengan Alloh, berupa doa. Dimana para shahabat radhiyallohu’anhuma tidak meminta syafaat pada Rasulullah (menjadikan Rasulullah sebagai perantara) tatkala Rasulullah telah meninggal dunia. Akan tetapi, para shahabat akan mencari orang shalih yang masih hidup di lingkungan mereka, yakni orang yang kira-kira akan Alloh kabulkan doanya.

Hal ini sebagaimana ketika terjadi peristiwa paceklik di masa setelah Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam meninggal dunia. Dimana pada saat itu para shahabat radhiyallohu ‘anhuma tidak memita syafaat di makan Rasulullah. Akan tetapi, mereka pergi menemui paman Rasulullah, al ‘abbas, yang pada masa itu masih hidup.

4. Dalam bab ini diterangkan pula tafsir dari kalimat tasbih  yang digunakan untuk mengingkari apa yang dikatakan oleh orang arab badui yang mengatakan bahwa sesungguhnya dia menjadikan Alloh ‘azza wa jalla sebagai perantara antara dia dan Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam.

5. Bahwa kaum muslimin, para shahabat terdahulu, biasa meminta pada Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam untuk berdoa dan meminta pada Alloh ‘azza wajalla agar diturunkan hujan untuk mereka. Dimana kebiasaan ini dilakukan pada masa ketika Rasulullah shalallohu ‘alaihiwasallam masih hidup. Adapun meminta syafaat atau menjadikan orang yang sudah mati sebagai perantara maka hal itu termasuk dalam kesyirikan.

Sumber : catatan ta’lim dan kitabut tauhid versi digital


Mohon koreksi apabila terdapat kesalahan.

Semoga bermanfaat

Barakallahu fiykum

 

surabaya, 20 dzulhijjah 1433

ummu ruqayyah

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s