[catatan ta’lim] RIZQI YANG HALAL DAN AYAT PERTAMA AL QURAN YANG PERTAMA DITURUNKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

–RIZQI YANG HALAL DAN AYAT PERTAMA AL QURAN YANG PERTAMA DITURUNKAN–

Berikut ini merupakan ringkasan faedah yang didapat dari kajian islam ilmiah rutin masjid Abu Bakr Ash Shiddiq

Jl. Jojoran 1 no. 18-20, Surabaya

Bersama Ustadz Hariadi. dengan membahas kitab Ushul Tafsir
Kamis, 29 November 2012

1.   Neraka merupakan perkara yang besar, dan bukan perkara yang remeh. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar hendaknya setiap manusia takut dan berhati-hati akan sentuhan api neraka.

2.   Setiap orang hendaknya menjaga dirinya dari siksa api neraka dan berusaha untuk membuat tameng (pelindung) untuk dirinya dari siksa api neraka. Yakni dengan melakukan amal-amal shalih, walaupun hanya bershadaqah dengan sebiji kurma, dan apabila ia tidak memilikinya, hendaknya ia berucap ucapan-ucapan yang baik.

Hendaknya seseorang bershadaqah, walaupun sedikit. Ini disebabkan karena shadaqah dapat menjadi tamengnya dari siksa api neraka, serta dianjurkan untuk melakukan shadaqah yang bersifat jariyah, yang pahalanya akan mengalir terus menerus untuk dirinya.

Sebagaimana dalam hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus shalihin, dari Anas bin Malik, bahwa rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentang keridhaan Alloh ‘azza wa jalla terhadap orang-orang yang makan atau minum, dan kemudian mereka memuji Alloh.

Perkara dalam hadits tersebut (makan dan minum) merupakan perkara yang remeh, yang biasa dilakukan oleh setiap manusia. Oleh karenanya dapat diambil faedah bahwa keridhaan Alloh ta’ala terkadang dapat dicapai hanya dengan melakukan perkara-perkara yang remeh. Misalnya dengan mengawali makan atau minum dengan ucapan “bismillaah” dan mengakhirinya dengan mengucapkan “alhamdulillaah” (memuji Alloh). Berdasarkan hadits ini dapat pula diambil fadah terkait dengan adab makan dan minum. Namun demikian, adab makan dan minum tidak semata-mata hanya 2 (memulai dengan bismillaah, dan mengakhiri dengan alhamdulillah) sebagaimana yang disebutkan sebelumnya. Terdapat adab makan dan minum lain yang dicontohkan oleh Rasulullah, diantaranya adalah makanan atau minuman yang dikonsumsi haruslah halal, serta diperoleh dengan cara yang halal, dan yang selainnya.

Perintah untuk mengkonsumsi segala hal yang halal telah difirmankan oleh Alloh tabaraka wata’ala dalam Al quran

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS. Al mu’minun : 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (TQS. Al baqarah : 172)

Berdasarkan 2 ayat tersebut dapat diambil faedah bahwa hendaknya seseorang memakan apa-apa yang dihalalkan oleh Alloh tabaraka wata’ala.

Selain itu, tekait dengan surat al baqarah ayat 172, syaikh Shalih Al fauzan menyebutkan bahwa pada ayat tersebut Alloh memerintahkan hambaNYA untuk memakan apa-apa dari perkara yang halal. Oleh sebab itu, maka ketika kita berusaha untuk mencari rizqi (bekerja) yang halal hendaknya kita mengingat bahwa apa yang kita lakukan merupakan anjuran dari Alloh, serta lakukan hal tersebut atas dasar ibadah kepada Alloh. Yakni ketika mencari harta (bekerja) dengan niat, tujuan, dan cara mendapatkannya dilakukan dengan cara yang benar (halal).

Dalam ayat tersebut juga terdapat anjuran agar bersyukur terhadap ni’mat yang diberikan Alloh subhanahu wata’ala. Dimana syukur memiliki 3 rukun, yakni :

-> Pengakuan qalbu bahwasanya apa yang telah didapatkan selama ini adalah semata-mata berasal dari Alloh tabaraka wata’ala, bukan berasal dari usahanya sendiri.

-> Menceritakan ni’mat tesebut, seraya memuji Alloh subahanahu wata’ala

-> menjadikan rizqi tersebut sebagai jalan untuk bribadah kepada Alloh.

Dengan bersyukur, sedikitnya harta akan membuat seseorang bahagia, dan banyaknya harta akan menenangkannya. Ketenangan disebabkan karena ia tahu kemana hartanya akan berjalan.

Berkaitan dengan perintah Alloh untuk memakan harta yang dicari dengan cara yang halal, maka Alloh juga melarang hambaNYA untuk mencari harta dan memakannya melalui cara yang bathil (haram). Dimana hal ini juga telah difirmankan Alloh ‘azza wajalla dalam Al quran

…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…” (TQS. An nisaa’ : 29)

syaikh al fauzan menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan memakan harta dengan cara yang batil adalah mencakup seluruh upaya dalam rangka mendapatkan harta dengan cara yang tidak benar. Termasuk mencuri, suap, dan lain-lain.

Bagaimana dengan bekerja dengan menggunakan ijazah palsu (penipuan)? Bekerja dengan menggunakan ijazah palsu termasuk dalam memakan harta dengan cara yang bathil, sebab tanpa tanpa ijazah palsu tersebut ia tidak akan mendapatkan pekerjaannya.

Di samping ayat yang tersebut di atas, dalil yang digunakan sebagai landasan akan larangan memakan harta yang diperoleh dari cara yang haram adalah hadits terkait dengan seorang musafir yang kusut masai kemudian ia berdoa kepada Alloh, tapi doa tersebut tidak dikabulkan karena makanan yang ia makan haram, caranya mendapatkannya haram, dan selanjutnya sampai akhir hadits.

3. Faedah selanjutnya adalah terkait dengan surat pertama yang diturukan oleh Alloh ‘azza wa jalla kepada Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam.

Ayat yang turun pertama kali secara mutlaq adalah 5 ayat pertama surat Al ‘alaq

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (TQS. Al ‘alaq : 1-5)

Turunnya surat Al ‘alaq merupakan tanda bahwa Muhammad diangkat sebagai nabi.
Kemudian, wahyu berhenti turun beberapa saat, lalu turunlah 5 ayat pertama surat Al Muddatstsir.

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah,” (TQS. Al Muddatstsir : 1-5 )

Pada ayat ke-5 surat Al muddatstsir tersebut “dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”. Bukanlah menunjukkan jika Rasulullah shalallohu ‘alaihi wasallam mnyembah berhala. Akan tetapi, Alloh ta’ala memperingatkan agar Rasulullah memberikan peringatan (agar tidak menyembah berhala).

5 ayat dari surat al muddatstsir juga disebut sebagai ayat yang pertama turun, maksudnya adalah surat ini adalah surat yang pertama turun setelah wahyu berhenti turun beberapa saat. Selain itu, ayat ini dikaitkan dengan kali pertama turunnya risalah, serta turunnya ayat ini merupakan penanda nabi Muhammad diangkat sebagai rasul.

wallohu a’lamu…

referensi : alquran versi digital, catatan ta’lim, riyadhus shalihin versi digital.

original link : bismillah radio surabaya

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s