[catatan ta’lim] tak cukup sekedar belajar ilmu syar’iy

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Catatan ini merupakan faedah dari kajian rutin di Masjid Abu Bakr Ash Shiddiq Jl. Jojoran 1 blok K no. 18 Surabaya. Kajian ini adalah kajian yang diisi oleh Abul hasan, dengan membahas fadah dari Qs. Al hasyr ayat 18-19 mengenai pentingnya seorang hamba melakukan muhasabah terhadap dirinya, serta pembahasan mengenai ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Dimana ilmu syar’iy pun ternyata bisa menjadi ilmu yang tidak bermanfaat ketika tidak diamalkan.

Kajian ini merupakan kajian tematik pengganti dari kajian rutin hari jum’at (15/03/2013) yang seharusnya diisi oleh ust. muhammad afifuddin. Akan tetapi, beliau sedang melakukan safar sehingga digantikan sementara oleh ust Abul Hasan.

 

Berikut adalah faedah-faedah yang dapat diambil…

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr : 18)

firman Alloh subhanahu wata’ala dalam ayat tersebut mengandung 2 faedah, yakni :

1. Perintah agar bertaqwa kepada Alloh subhanahu wata’ala, dan memperbanyak bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Alhamdulillah, Alloh ‘azza wa jalla telah memberikan kemudahan kepada kita untuk menjalankan hal ini. Dimana salah satu bentuk dari memperbanyak bekal untuk kehidupan akhirat kita adalah Alloh ta’ala telah memberikan kemudahan kepada kita untuk dapat menuntut ilmu syar’iy, yang mana menuntut ilmu syar’iy merupakan salah satu amalan besar yang menjadi jalan pintas menuju surga. Terlebih, saat ini Alloh memberikan kemudahan bagi kita untuk menutut ilmu dengan banyaknya halaqah-halaqah ilmu syar’iy. Walhamdulillah, menuntut ilmu syar’iy telah menjadi rutinitas kita.

Namun demikian, dalam kelanjutan ayat itu, Alloh subhanahu wata’ala juga memerintahkan pada perkara yang ke-2, yaitu Alloh memerintahkan kita untuk bermuhasabah (mengoreksi) diri kita. Ini merupakan faedah yang ke-2 dari surat al hasyr ayat 18 tersebut.

Muhasabah dalam perkara ini adalah mengoreksi amalan-amalan yang telah menjadi rutinitas kita (menuntut ilmu syar’iy), yang Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai jalan pintas menuju surga, telah diterima oleh Alloh ‘azza wa jalla. Demikian pula amal-amal yang lain.

Dua hal tersebut merupakan ciri-ciri orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Dimana ketika dua perkara tersebut berkumpul pada diri seseorang, yakni ketika ia semangat untuk beramal dan ia juga senantiasa mengoreksi amalannya. Mengoreksi apakah amalan-amalannya ada yang rusak, kemudian ia beristigfar kepada Alloh ta’ala ketika menjalankan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

Oleh karenanya, Alloh berfirman pada ayat yang berikutnya,

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh…”

Diterangkan oleh imam Muhammad al-Amin asy-Syinqithi bahwa maksud dari ayat tersebut ada 2, yaitu

1. orang yang lalai kepada Alloh ta’ala.

Yaitu orang-orang yang tidak memikirkan bekalnya di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang malas untuk beramal, yakni mereka yang hanya memikirkan kehidupan dunianya saja. Dimana waktu, hidup, dan hartanya semua untuk dunia. Semangat beribadahnya kepada Alloh sangat rendah, begitu pula dengan semangat belajar ilmu syar’iynya.

2. Orang-orang yang tidak pernah melakukan muhasabah,

Yaitu orang yang tidak pernah menghisab dirinya sendiri semasa hidupnya. Ia semangat menambah ilmu, tapi hanya sekedar ditambah tanpa pernah ia mengoreksinya. Prinsip orang ini adalah, “barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (H.R Muslim). Ini merupakan perkara yang baik. Akan tetapi ia lalai pada satu perkara, yakni melakukan muhasabah.

Mengapa perlu melakukan muhasabah?

Karena ilmu yang kita pelajari terbagi menjadi 2, yakni :

1. ilmun naafi’, ilmu yang bermanfaat.

ilmu yang bermanfaat adalah ilmu syar’iy yang diamalkan oleh pemiliknya. Maka, syarat ilmu yang bermanfaat ada 2, yakni :

*ilmu itu adalah ilmu syar’iy, dan

*ilmu syar’iy tersebut diamalkan oleh pemiliknya.

Apapun bentuknya, baik itu tafsirnya, aqidahnya, semuanya. Ketika ilmu tersebut dikatakan sebagai ilmu syar’iy dan diamalkan oleh pemiliknya, maka ia masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Dimana semua keutamaan-keutamaan ilmu adalah ditujukan untuk ilmu kategori ini (ilmu yang bermanfaat).

 

 

2. ilmu yang tidak bermanfaat, atau juga disebut oleh para ulama sebagai ilmu yang membahayakan.

ilmu ini terbagi menjadi 2 jenis, yakni :

*ilmu yang memang tidak bermanfaat dari dzat itu sendiri, yakni ilmu tersebut memang pada dasarnya tidak memiliki manfaat. Seperti :

ilmu sihir. Ilmu ini selain tidak bermanfaat, ia juga memadharatkan (merugikan). Alloh ta’ala berfirman dalam Qs. Al Baqarah : 102 mengenai bani israil,

 

وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ

 

“Dan mereka mempelajari ilmu yang memadharatkan diri mereka dan tidak mendatangkan manfaat”

 

Termasuk dalam kategori ilmu yang tidak bermanfaat lainnya adalah ilmu kalam. Ilmu kalam merupakan ilmu yang hanya menghabiskan umur tanpa manfaat, bahkan ia meninggalkan keraguan dan kebimbangan bagi yang mempelajarinya.

 

*Ilmu syariy yang tidak diamalkan oleh pemiliknya.

Ilmu syar’iy yang tidak diamalkan oleh pemiliknya berubah mnjadi ilmu yang tidak bermanfaat. Dimana pada dasarnya ilmu syar’iy itu bermanfaat. Akan tetapi ketika tidak diamalkan, maka ia menjadi tidak bermanfaat.

 

>>>Atas dasar apa adanya pembagian ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat?<<<

Pembagian ini dilakukan atas dasar hadits Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh imam Bukhary dan imam Muslim, dalam sebuah hadits yang panjang, salah satu bagian dari isi hadits tersebut adalah sebagai berikut.

“…Dan Al quran itu merupakan hujjah yang akan membela atau menuntutmu…”

Al quran itu akan menjadi hujjah yang akan membelamu di yaumul Qiyamah, atau Al quran akan menjadi hujjah yang akan membinasakanmu di yaumul qiyamah.

Apabila ilmu itu adalah ilmu yang bermanfaat, maka ia akan menjadi hujjah yang membelamu di yaumul qiyamah. Sebaliknya, ketika ilmu tersebut adalah ilmu yang tidak bermanfaat, maka ia akan membinasakanmu di yaumul qiyamah.

 

Oleh karena itu, ini adalah bahan koreksi bagi diri kita. Ketika kita semangat menambah ilmu, maka jangan lupa melakukan koreksi, apakah ilmu tesebut telah diamalkan?

Ataukah ilmu yang kita ketahui hanya sebatas catatan, rekaman, dan yang semisalnya? Atau hanya sebatas kita jadikan senjata untuk mendebat orang lain? Menjatuhkan orang lain? Atau membungkam orang lain?

Dan bisa jadi ketika seseorang tidak pernah melakukan koreksi terhadap ilmunya atau tidak pernah memperhatikan apakah ilmunya telah diamalkan atau belum, dihawatirkan nanti dia akan termasuk dalam golongan orang-orang yang mengalami kerugian. Ilmu yang ia dapatkan tidak menambahkan kebaikan bagi dirinya.

Oleh karenanya, Rasulullah shallallohu ‘alai wasallam mengajarkan do’a yang indah kepada kita, hadits riwayat imam muslim,

اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسِ لاَ تَـشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يَسْـتَجَابُ لَهَا

“Yaa Alloh aku berlindung kepadaMU dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak merasa tenang, dan dari jiwa yang tidak pernah merasa cukup, dan juga dari do’a yang tidak dikabulkan”.

Hati yang tidak pernah tenang juga merupakan dampak dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dimana hatinya mudah terjangkiti hasad, terjangkiti iri dan dengki kepada saudaranya, serta tidak dapat merasakan manisnya perasaan saat beribadah kepada Alloh subhanahu wata’ala.

Ilmu yang tidak bermanfaat akan membuat seseorang tidak pernah merasa cukup, ia akan selalu saja merasa kurang dan kurang. Hilang darinya sifat qana’ah.

Oleh karenanya, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam selain mengajarkan do’a yang indah tersebut, Beliau Shallallohu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan umatnya untuk berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat dalam hadits riwayat ibnu majah dari shahabat Jabir ibn abdillah Radhiyallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda,

“Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

sebagai pneutup…

al imam al baghdadi rahimahullohu ta’ala menukilkan ucapan salah seorang tokoh tabi’in, ma’ruf ibn fairuz al karkhy rahimahulloh

“Apabila Alloh subhanahu wata’ala menginginkan kebaikan untuk seorang hamba, maka Alloh akan bukakan untuknya pintu mengamalkan ilmunya, Kemudian Alloh akan menutup baginya pintu perdebatan

Tanda kebaikan bagi seorang hamba adalah Alloh ta’ala akan memudahkan baginya jalan untuk mengamalkan ilmunya. Hal ini terjadi kepada para shahabat. Dimana pada masa itu Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “wahai umat manusia, sebarkan salam diantara kalian”. Shahabat Anas bin malik radhiyallohu ‘anhu mengatakan bahwa semenjak Rasulullah bersabda demikian, para shahabat langsung mengamalkannya, dan tdak seorang pun berjumpa dengan saudaranya melainkan mereka mengucapkan salam.

Alloh subhanahu wata’ala akan menutup baginya pintu perdebatan. Ia akan sibuk dengan amal, dan tidak disibukkan oleh perdebatan-perdebatan.

Sebaliknya, lanjutan dari perkataan tabi’in ma’ruf ibn fairuz al karkhy rahimahulloh…

“Dan ketika seorang hamba dikehendaki kejelekan oleh Alloh subhanahu wata’ala, Alloh akan bukakan baginya pintu perdebatan, dan Alloh subhanahu wata’ala menutup dari hamba tersebut pintu mengamalkan ilmu”

Alloh subhanahu wata’ala akan membukakan baginya pintu perdebatan, apalagi ketika terjadi fitnah, padahal ia bukan ahlinya. Apabila seoran hamba disibukkan dengan hal ini maka ia akan lalai dari mengamalkan ilmu.

Oleh karenanya, hendak kita tidak menilai orang lain, tapi menilai diri sendiri. Termasuk dalam golongan manakah diri kita ini? Apakah kita termasuk dalam golongan orang yang dimudahkan mengamalkan ilmu dan dijauhkan dari perdebatan? atau bahkan sebaliknya, kita termasuk hamba-hamba Alloh subhanahu wata’ala yang memiliki ilmu yang tidak bermanfaat, lebih disibukkan dengan perdebatan, lebih sibuk dengan dunia, sehingga lalai dari mengamalkan ilmu syar’iy-nya??

Ketika kita menjumpai diri kita ada dalam golongan orang yang mengamalkan ilmu syar’iy-nya, maka banyak-banyaklah memuji Alloh subhanahu wata’ala, dan mintalah kepada Alloh agar diteguhkan di jalan yang lurus.

Akan tetapi, ketika menjumpai diri kita sebagai hamba-hamba yang lalai, tidak melakukan muhasabah pada dirinya, hamba-hamba yang tidak mengamalkan ilmunya, maka segera kembali kita semua kepada Alloh, dan tinggalkanlah kebiasaan-kebiasaan lama yang uruk tersebut.

Kita memohon kepada Alloh subhanahu wata’ala, dengan mengharap ridho-NYA, agar kita digolongkan termasuk dalam golongan orang-orang yang kelak diselamatkan dari api neraka.

 

barakallohu fiykum.

 

sumber : rekaman ta’lim.

 

 

catatan : ini merupakan bentuk pengalih mediaan rekaman (transkrip) ta’lim oleh ust abul hasan. Dengan sedikit perubahan kata-kata dari penulis, dari bahasa lisan menjadi bahasa tulisan, tanpa mengubah makna dan inti dari rekaman itu sendiri.

وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s