[catatan ta’lim] apa hikmah dari turunnya al quran secara bertahap?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Catatan ta’lim rutin Masjid Abu Bakr Ash Shiddiq

Jl. Jojoran 1 Blok K no. 18-20, Surabaya

Kamis, 2 Mei 2013

“HIKMAH DITURUNKANNYA AL QURAN SECARA BERTAHAP”

Pemateri : al ustadz Hariadi

Syaikh utsaimin berkata, “Dengan adanya pembagian surat dalam al quran, yakni makkiyah dan madaniyah. Maka telah tampak bahwasanya al quran tersebut diturunkan  secara bertahap”

Yakni tidak semua surat dalam al quran adalah makkiyah, sebagaimana tidak semua yang terdapat dalam al quran adalah madaniyah. Akan  tetapi, sebagian dalam al quran adalah makkiyah, sdang sebagian yang lain adalah madaniyah. Dimana ayat-ayat dalam al quran tersebut diturunkan secara berangsur-angsur, makkiyah berangsur-angsur, begitu pula dengan madaniyah.

“dan diturunkannya al quran dengan cara yang demikian memiliki hikmah yang banyak”. Hikmah tersebut diantaranya :

1. Sebagai penguat akan qalbu Rasulullah,

Hikmah diturunkannya al Quran adalah sebagai penguat qalbu Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, sebagaimana termaktup dalam al quran,  surat al furqan : 32-33.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا

“Dan orang-orang kafir berkata, ‘mengapa al quran itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (muhammad) dengannya, dan Kami membacakannya secara tertil (berangsur-angsur, perlahan-lahan, dan benar)”

وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

“Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.”

Menurut ibnu katsir, dalam ayat tersebut Alloh subhanahu wata’ala mengabarkan betapa keras kepala serta pembangkangnya orang-orang kafir, serta mereka turut campur pada perkara yang mereka tidak memiliki urusan padanya.

Dari ayat tersebut juga dapat diambil faedah bahwa kitab-kitab yag sebelumnya diturunkana tidak diturunkan secara berangsur-angsur. Wallohu a’lam.

Selain itu pada surat al furqan ayat 33 juga disebutkan bahwa orang-orang kafir akan senantiasa mencari celah dari al quran, menebar syubhat dan mengacaukan kaum muslimin. Namun demikian, sebagaimana tafsir ayat yang disebutkan oleh imam Ath thobari, bahwasanya, dan tidaklah kaum musyrikin datang kepada engkau dengan  membawa 1 hujjah pun, melainkan Alloh ‘azza wa jalla menurunkan kebenaran untuk membantah mereka.

Dengan demikian dapat diambil faedah bahwa Alloh ‘azza wa jalla menjaga al quran dari syubhat-syubhat yang dibawa oleh kaum musyrikin. Alloh ta’ala pun menjawab syubhat-syubhat tersebut dengan jelas dan lebih baik.

2. Faedaah kedua dari diturunkannya al quran secara berangsur-angsur adalah agar al quran menjadi mudah dihapalkan, mudah dipahami, dan mudah diamalkan.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam membacakan al quran kepada para shahabat sedikit demi sedikit, satu ayat demi satu ayat.

quote dari ustadz hariadi ” selama nyawa masih dikandung badan, berusahalah sekeras mungkin”

Apabila para shahabat belajar 10 ayat dalam al quran, maka mereka tidak beranjak dari 10 ayat itu melainkan mereka telah mengilmui serta mengamalkannya.

Oleh karenanya, bersabarah dalam menuntut ilmu, bersemangatlah dalam menuntut ilmu. Dahulu para shahabat tetap bersemangat dan sabar dalam menuntut ilmu. Walaupun pada masa itu tidak ada teknologi informasi maupun alat transportasi yang memadai seperti apa yang ada pada masa sekarang. Dahulu, taruhan untuk menuntut ilmu adalah nyawa, ancaman kehabisan bekal serta bahaya lain yang mungkin ditemui dalam perjalanan. Namun demikian, para shahabat sabar dan tetap bersemangat untuk menuntut ilmu.

quote dari ustadz hariadi, “bagi para akhwat yang belum menikah, sebelum menikah, bersemangatlah dalam menuntut ilmu”

Dalil dari faedah ini adalah sebagaimana yang difirmankan Alloh subahanahu wata’ala dalam surat Al isra’ : 106

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلا

“Dan al quran (Kami turunkan) secara berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.”

Imam Qatadah mengatakan bahwa tidaklah alquran diturunakan dalam waktu semalam atau dua malam, tidak pula satu atau dua bulan, juga tidak diturunkan  dalam waktu setaahun atau dua tahun. Akan tetapi, alquran diturunkan dalam kurun waktu 23 tahun. Hal tersebut agar manusia mudah untuk menghafalkannya, memahaminya, serta mengamalkannya.

3. Faedah al quran diturunkan secara berangsur-angsur yang ketiga adalah sebagai pendorong semangat, dalam rangka menerima apa yang turun dari al quran dan mengamalkannya. 

Dahulu, para shahabat senantiasa rindu akan turunnya ayat dari al quran. Apabila di masa sekarang kita akan merasa rindu ketika kita menunggu pemberian dari sesama manusia yang kita senangi pemberian darinya. Maka apa yang dirasakan oleh para shahabat, kerinduannya, pasti lebih besar. Hal ini karena apa yang dirindukan merupakan sesuatu yang berasal dari Alloh subhanahu wata’ala, pemilik langit dan bumi.

quote dari ustadz hariadi, “Jangan sumpek! biasa saja, apabila merasa seret dalam perkara rizqy, ingatlah! Alloh maha kaya”

Kerinduan para shahabat akan turunnya ayat al quran itu, sebagaimana tercatata dalam sejarah, yakni tatkala merebak fitnah tentang ummul mu’minin a’isyah radhiyallohu ‘anha. Yang kemudian Alloh ta’ala pun menurunkan ayat yang membersihkan nama beliau radhiyallohu ‘anha, dan membengkar makar orang-orang munafiq.

begitu pula yang terjadi terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan tayammum dan juga tentang li’an.

4. Alloh subhanahu wata’ala menjadikan syariatnya secara bertingkat-tingkat, Alloh menjadikan hukumnya bertahap-tahap hingga sampai pada ayat yang sempurna.

Faedah ini dapat diketahui dalam kisah turunnya ayat-ayat tentang keharaan khamr. Syari’at tentang khamr diturunkan secara bertahap-tahap.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…” (Al Baqarah : 219)

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ayat tersebut adalah persiapan bagi manusia akan keharaman khamr, sehingga akal manusia akan memilih akan dosa dan manfaatnya. Akan tetapi dosanya lebih besar dibandingkan manfaatnya. Dimana manfaat yang ada di dalamnya adalah manfaat duniawi semata. Dalam kondisi orang-orang pada masa itu sangat dekat dan akrab dengan khamr.

Adanya persiapan ini merupakan bentuk dari betapa Alloh subhanahu wata’ala memahami kondisi dari hamba-hambaNYA, Alloh ‘azza wa jalla sangat memahami ciptaanNYA. Oleh karenanya Alloh ta’ala menurunkan ayat ini agar manusia bersiap-siap.
Syaikh Utsaimin rahimahulloh berkata, Alloh mempersiapkan manusia untuk menjauhi khamr tersebut, sebelum turunnya ayat yang benar-benar secara tegas mengharamkannya.

Wallohu a’lam.

semoga bermanfaat.

Barakallohu fiykum.

Sumber : Catatan ta’lim dan Al quran digital

Note : Catatan ta’lim ini merupakan murni hasil penulisan ulang dari catatan ta’lim penulis, tidak ada rekaman suara, sebab Ustadz Hariadi tidak mengizinkan untuk merekam kajian dari beliau. Mohon dikoreksi apabila terdapat kesalahan.

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s