[catatan sejarah] Mengenal putra putri rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

assalaamu’alaykum warahmatulloh wabarakatuh…

Howdy readers, sudah lama sekali saya tidak mengisi blog ini. Sampai galau hendak memulai menulis dengan kalimat apa…

Tulisan yang saya posting kali ini adalah tulisan yang berkaitan dengan sejarah putra-putri Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, yang mana ini meruapakan faedah yang bisa saya ambil dari sebuah rekaman kajian oleh al ustadz abu syakir syuhada yang saya download dari ilmoe.

Terdapat banyak fadah yang bisa diambil dari kajian tersebut, tidak hanya tentang siapa saja putra dan putri Rasulullah shallallohu ‘alahi wasallam. Akan tetapi, kita juga bisa mengambil faedah tentang kaidah penggunaan nama kunyah, faedah dari kisah perjalanan hidup putri rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, serta sedikit faedah tentang fiqih. Dimana setiap faedah tersebut telah dijelaskan secara gambalang dan jelas oleh ustadz abu syakir syuhada. Beberapa faedah yang terdapat di dalamnya, diantaranya tentang kaidah penggunaan nama kunyah, mungkin masih banyak saudara-saudara kita yang belum tahu bagaimana kaidah penggunaan nama kunyah yang baik dan benar sesuai tuntunan syariat –termasuk saya-, walaupun telah tahu bahwa memakai nama kunyah termasuk bagian dari sunnah. Lalu, bagaimanakah yang benar? Saya mencoba untuk menuliskan kembali beberapa faedah tersebut, cekidot…

MENGENAL PUTRA DAN PUTRI RASULULLAH SHALLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM

ringkasan faedah dari ceramah al-ustadz abu syakir syuhada’

Kajian ini merupakan kajian yang membahas mengenai sejarah para ulama. Para ulama telah muncul sejak dari kalangan para sahabat maupun shahabiyyah, yang mana mereka adalah orang-orang yang telah dididik secara langsung oleh Rasulullah. Kemudian ada generasi tabi’in, tabiut tabi’in, serta terus hingga di masa kini. Oleh karenanya, hendaknya kita tidak memahami bahwa ulama hanya ada di masa kini saja. Maka itulah ilmu dalam agama islam, memiliki sanad (rantai) yang bersambung sampai rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. Termasuk di dalam kalangan para ulama itu adalah putra dan putri Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam.

Siapakah putra dan putri rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam?

Khadijah bintu khuwailid radhiyallohu ‘anha adalah istri rasulullah yang pertama. Selama masa bersama khadijah, rasulullah memiliki 6 orang anak. Rasulullah juga memiliki seorang anak lagi dari budaknya, yakni mariah alqibtiyah radhiyallohu ‘anha. Dimana Rasulullah tidak memiliki anak lagi melainkan dari mereka.

Adapun nama-nama anak rasulullah adalah sebagai berikut,

  1. Al qashim (putra)
  2. Zainab (putri)
  3. Ruqoyyah (putri)
  4. Ummu kultsum (putri)
  5. Fathimah (putri)
  6. Abdulloh (putra), serta
  7. Ibrahim (putra rasulullah dengan mariah al qibthiyah)

AL QASHIM

Nama anak pertama rasulullah adalah al qashim ibn muhammad ibn abdillah ibn abdul munthallib. Al qashim hidup hingga beliau bisa berjalan kaki, kurang lebih hingga usia 2 tahun, kemudian ajal menjemputnya. Kunyah rasulullah adalah abul qashim.

Dalam hadits shahih riwayat bukhari, bahwa rasulullah bersabda, “bernamalah kalian dengan namaku. Akan tetapi janganlah kalian berkunyah dengan kunyahku”.

Di dalam hadits tersebut terdapat perintah dan larangan, yakni perintah untuk memberi nama anak dengan nama muhammad atau ahmad. Maksudnya adalah seorang muslim boleh memiliki nama atau memberi nama anaknya dengan nama muhammad atau ahmad. Sedangkan larangan yang terdapat dalam hadits tersebut adalah larangan berkunyah dengan kunyah rasulullah, yakni seorang muslim dilarang berkunyah dengan kunyah abul qashim.

Akan tetapi, para ulama ikhtilaf (berbeda pendapat) tentang pelarangan menggunakan nama kunyah abul qashim, yakni apakah pelarang tersebut berlaku selamanya (mutlaq) ataukah hanya semasa rasulullah hidup saja. Diantara para ulama yang berpendapat bahwa pelarangan penggunaan kunyah tersebut berlaku selamanya adalah ibnul qayyim. Dimana ibnul qayyim dalam kitabnya zaadul ma’ad menyatakan yang maknanya adalah bahwa seseorang boleh bernama dengan nama muhammad, tapi berkunyah dengan kunyah rasulullah (abul qashim) itu terlarang. Jika di masa rasulullah masih hidup seseorang berkunyah dengan nama abul qashim maka itu lebih terlarang. Sedangkan ketika seseorang bernama dengan nama “muhammad” lalu berkunyah dengan “abul qashim”, maka ini juga terlarang.

Akan tetapi, dalam perkara ini, pendapat yang rajih adalah bahwa pelarangan tersebut hanya berlaku ketika rasulullah masih hidup. Namun demikian, ini adalah perkara khilafiyyah yang kita tidak perlu berselisih karenanya, sebab ini adalah masalah fiqih yang masing-masing memiliki dalil dan kita harus berlapang dada dengannya.

Apakah nama kunyah itu?

Dalam kaidah bahasa arab, terdapat 3 jenis nama, yakni : nama sendiri, julukan, serta kunyah.

Nama kunyah adalah nama yang didahului dengan “abu” (bapak) dan “ummu” (ibu). Dimana nama yang tidak didahului dengan 2 kata tersebut tidak bisa disebut sebagai nama kunyah. Nama ini juga dinisbahkan kepada nama anaknya. Misalnya, abu fulan yakni bapaknya si fulan, ummu ‘allan yakni ibunya si ‘allan.

Dalam kitabnya, zaadul ma’ad pada jilid yang kedua, ibnul qayyim menyebutkan bahwa nama kunyah merupakan nama penghormatan bagi orang yang kita berkunyah dengan namanya. selain itu, ini merupakan bimbingan dari rasulullah shallalloohu ‘alaihi wasallam. Baik bagi orang-orang  yang sudah punya anak maupun yang belum punya anak, nama kunyah tetap disunnahkan. Hal ini disebabkan kerena, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tersebut di atas, bahwa rasulullah melarang berkunyah dengan kunyah beliau, yakni abul qashim. Dengan demikian, dengan kata lain dapat diambil faedah bahwa rasulullah memerintahkan seseorang untuk berkunyah, kecuali dengan kunyah abul qashim. Maka, perintah untuk memiliki nama kunyah ini merupakan perintah yang berlaku secara umum, sehingga hukumnya sunnah. Oleh karenanya, ketika seorang hamba memiliki nama kunyah dengan tujuan untuk mendapatkan keridhoan Alloh serta mengikuti apa yang dilakukan oleh rasulullah, maka ia akan mendapatkan pahala. Ia hanya sekedar memiliki nama kunyah, apakah ia punya anak atau belum, serta apakah anaknya laki-laki atau bukan, maka ia akan tetap mendapatkan pahala.

Syaikh shalih al fauzan pernah mengatakan bahwa nama kunyah itu diambil dari nama anak lelaki yang paling besar. Dengan demikian, ia tidak diambil dari nama perempuan. Ketika seseorang hanya memiliki anak perempuan, maka ia tetap berkunyah dengan nama laki-lakinya. Oleh karenanya, merupakan sebuah kekeliruan ketika diantara kita ada yang berkunyah dengan nama anak perempuan, walaupun hal tersebut tidak sampai pada tingkatan dosa. Hal tersebut juga dikuatkan oleh al imam ibnu muflih, beliau berkata dalam kitabnya al adab syar’iyyah, bahwa seseorang diperbolehkan memiliki nama kunyah walau ia tidak memiliki anak.

Para ulama terdahulu telah mengamalkan sunnah untuk memiliki nama kunyah ini, diantaranya shahabat abu bakr, yang namanya adalah abdullah ibn utsman. Sedangkan Umar bin khattab memiliki nama kunyah abu hafs, lalu ali memiliki kunyah abu turab atau abu husein. Penggunaan nama kunyah juga dilakukan oleh ulama di zaman sekarang, misalnya syaikh muqbil yang berkunyah abu abdirrahman.

Selain itu, imam yang empat kecuali imam abu hanifah, yakni imam ahmad, imam syafi’i, imam malik semuanya memiliki kunyah abu abdillah. Bahkan imam bukhari pun juga berkunyah dengan nama kunyah abu abdillah. Walaupun tidak semua imam tersebut memiliki anak bernama abdulloh. Akan tetapi, hal tersebut semata-mata dilakukan karena ingan mengamalkan sunnahnya berkunyah.

ZAINAB

Selanjutnya adalah tentang anak kedua rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, yakni zainab bintu muhammad bin abdillah bin abdul munthalib. Zainab dilahirkan sebelum turunnya wahyu kepada Rasulullah. Kemudian zainab dinikahkan dengan abul ‘ash bin rabi’. Sedangkan mertua zainab adalah halah binti khuwailid yang merupakan bibinya dari pihak ibu, saudara kandung khadijah binti khuwailid, sehingga khadijah adalah sepupu abul ‘ash bin rabi’. Zainab memiliki 2 anak, yakni ali bin abul ‘ash bin rabi’, serta umamah bintu abul ‘ash bin rabi’. Dimana ali meninggal ketika ia masih usia anak-anak, sedangkan umamah tumbuh dewasa yang kemudian menikah dengan ali bin abi thalib setelah wafatnya fathimah bintu rasulullah.

Terdapat banyak faedah dari kisah zainab radhiyallohu ‘anha diantaranya adalah tentang pernikahan, serta tentang bagaimana cara merawat jenazah seorang muslimah. Faedah tentang pernikahan ini dapat diambil dari kisahnya bersama suaminya, abul ‘ash bin rabi’, yang mana pernikahan mereka adalah pernikahan yang putus karena Alloh dan disatukan kembali pula kerena Alloh. Dimana zainab telah masuk islam lebih dulu daripada abul ‘ash, sehingga hal ini pun menyebabkan mereka berpisah selama sekian tahun, sebab zainab adalah seorang muslimah dan abul ‘ash masih seorang musyrik. Akan tetapi, akhirnya mereka bisa bersama lagi setelah abul ‘ash memeluk islam. Menjadi suami-istri kembali di atas ikatan pernikahan mereka terdahulu setelah abul ‘ash memilih untuk meninggalkan agama musyrikin dan kemudian memeluk islam. Kisah yang mengharukan, bahwasanya bahtera rumah tangga itu diruntuhkan karena Alloh, dan dibangun lagi karena Alloh ta’ala.

Sedangkan faedah tentang tatacara perawatan jenazah didapat ketika zainab meninggal dunia. Dalam kisah tersebut dapat diambil faedah bahwasanya jenazah seorang muslimah hendaknya diurus oleh para wanita muslimah pula, bukan oleh laki-laki. Adapun jika laki-laki boleh mengurusnya maka itu tentu oleh mahromnya. Selain itu, juga dapat diambil faedah mengenai tatacara memperlakukan jenazah muslimah, yakni mengepang ramput menjadi 3 kepang serta mengkafaninya. Kafan tersebut dapat menggunakan selimut, atau kain sarung, asalkan mampu menutupi seluruh bagian yang perlu dikafin. Akan tetapi, yag paling afdhol adalah menggunakan kain berwarna putih. Kisah lebih selengkapnya dapat antum dengar pada rekaman kajian, atau bisa antum baca di sini.

RUQOYYAH

Ruqoyyah radhiyallohu ‘anha adalah putri kedua rasulullah. Ruqoyyah dinikahkan dengan putra abu lahab, utbah bin abu lahab sebelum masa kenabian. Abu lahab siapa? Abu lahab yang dicela oleh Alloh ta’ala dalam surat al lahab. Ibu ruqoyyah, khadijah bintu khuwailid, tidak setuju dengan pernikahan ini karena perangai buruk dari ibu utbah, ummu jamil bintu harb (istri abu lahab yang juga mendapat celaan dari Alloh subhanahu wata’ala dalam surat al lahab). Oleh karena kebenciannya terhadap Rasulullah, abu lahab menyuruh utbah untuk menceraikan ruqoyyah. Ruqoyyah pun diceraikan oleh utbah, hingga ia menjadi janda yang masih perawan, sebab belum pernah melakukan jima’ sama sekali dengan utbah.

Setelah perceraiannya dengan utbah, ruqoyyah dinikahkan dengan utsman bin affan. Ruqoyyah sangat bahagia ketika ia dinikahkan dengan utsman bin affan, sebab utsman adalah seorang muslim yang terkenal sebagai pemuda kaya, tampan, dan baik hati. Setelah pernikahannya, utsman dan ruqoyyah diperintahkan untuk hijrah ke habasyah kerena keadaan mekkah yang sangat tidak kondusif bagi umat muslim. Maka, jadilah mereka dan rombongannya adalah orang-orang yang pertama kali hijrah ke habasyah. Ustman dan ruqoyyah dikaruniai seorang anak bernama abdulloh oleh Alloh ta’ala. Oleh karenanya, kunyah utsman bin affan adalah abu abdillah.

Selang waktu beberapa lama, mereka mendapat berita bahwa makkah sudah aman bagi umat muslim, sehingga mereka dan rombongan pun kembali ke makkah. Namun ternyata, hal itu tidaklah benar, makkah justru semakin mencekam bagi umat muslim. Oleh karenanya, mereka hanya bisa masuk ke rumah-rumah keluarga mereka di malam hari, termasuk ruqoyyah. Ruqoyyah masuk ke dalam rumah keluarganya, ia pun bertemu dengan keluarganya, kecuali 1 orang, ibunya. Ruqoyyah tidak bisa mendapati orang yang sangat dirindukannya itu di rumahnya, hingga ia menyadari bahwa ibunya, khadijah bintu khuwailid, telah meninggal dunia. Ruqoyyah pun menangis karenanya. Tidak hanya berhenti di situ, beberapa saat setelahnya, ruqoyyah juga kehilangan putranya, abdulloh. Abdulloh meninggal karena wajahnya membengkak setelah terkena patukan ayam jantan.

Terdapat banyak faedah pula yang dapat diambil dari perjalanan hidup ruqoyyah, diantaranya adalah bahwa ketika seorang muslim meninggalkan sesuatu karena Alloh semata, maka Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik. Sebagaimana ruqoyyah yang memutuskan tali perkawinannya dengan utbah bin abu lahab yang merupakan seorang musyrikin, yang kemudian Alloh memberikan ruqoyyah ganti yang lebih baik, yakni dengan menjadikan utsman sebagai suaminya.

Selain itu, dalam kisah ruqoyyah radhiyallohu ‘anha juga dapat diambil faedah bahwasanya boleh bagi seorang muslim menangis karena bersedih ketika ada saudaranya yang meninggal dunia. Hal ini terjadi ketika ruqoyyah meninggal dunia. Pada saat itu, para wanita banyak yang menangis karena kepergiannya. Hal ini disebabkan karena ruqoyyah adalah sosok muslimah yang benar-benar terpandang diantara kaum wanita muslimah, sampai-sampai umar bin khattab hendak mencambuk muslimah  yang menangis tersebut agar tidak berlebihan menangisi jenazah ruqoyyah.

Akan tetapi, kemudian rasulullah mencegah umar melakukannya, dan berkata “biarkanlah mereka menangis, tapi berhati-hatilah degan bisikan syaithon yang datanganya dari hati dan dari mata. Dan apa-apa yang datang dari hatimu, maka itu adalah rahmat. Sedangkan apa-apa yang datang dari tanganmu, dari lidahmu maka itu adalah dari syaithon.” Jadi rasulullah memberikan pesan kepada umar bin khattab agar tidak gegabah. Yakni apa yang datang dari hati, yakni kebaikan-kebaikan yang muncul dari hati, itu adalah rahmat dari Alloh. Adapun kekasaran yang datang dari tangan dan lisan, maka itu dari syaithon bukan dari Alloh.

Kisah lebih lengkap mengenai ruqoyyah radhiyallohu ‘anha dapat antum dengarkan langsung pada rekaman kajian ini, atau bisa antum baca di sini.

UMMU KULTSUM

Putri rasulullah yyang ke-3 adalah ummu kultsum. Ummu kultsum memiliki kisah yang hampir sama dengan ruqoyyah. Yakni ummu kultsum juga pernah dinikahi oleh salah satu anak abu lahab, utaibah bin abu lahab. Dimana kemudian ummu kultsum juga diceraikan oleh utaibah tanpa mereka melakukan jima’. Namun, berbeda dengan utbah yang tidak melakukan apa-apa setelah menceraikan ruqoyyah, Utaibah melakukan halyang berbeda yakni ia menyakiti hati rasulullah. Hingga rasulullah pun berdoa agar Alloh menurunkan anjing-anjingnya untuk membinasakan utaibah, yang kemudian hal itu benar-benar terjadi. Dimana pada suatu ketika utaibah sedang pergi bersama rombongannya, lalu di tengah jalan ia mati karena diterkam oleh singa yang sangat ganas. Padahal dalam perjalanan itu ia tidak sendiri, ia bersama kawan-kawan musyrikinnya, tapi singa itu lebih memilih menerkam kepala utaibah hingga ia mati dengan kondisi yang sangat mengerikan. Kemudian, ummu kultsum juga dinikahi oleh utsman bin affan sepeninggal ruqoyyah. Akan tetapi, ummu kultsum tidak memiliki anak dengan usman bin affan.

Terdapat faedah yang juga bisa diambil dari perjalanan hidup ummu kultsum diataranya adaah tentang fiqh ketika seorang wanita dikembalikan kepada orangtuanya. Yakni ketika ummu ultsum bercerai dengan utaibah, dan kemudian ia kembali tinggal dengan orangtuanya. Ia tinggal di makkah dan saat rasulullah hijrah ke madinah ia ikut pula dan tinggal bersama keluarga rasulullah. Dalam hadits riwayat bukhari, rasulullah bersabda bahwa barangsiapa yang merawat anak perempuannya benar-benar merawat anak perempuannya karena Alloh dan mengikuti petunjuk rasulullah maka itu akan mampu menjadi penghalang baginya dari api neraka. Dan apa-apa yang seseorang masukkan dalam perutnya sendiri maka itu shadaqah bagi dirinya. Dan memberi makan kepada istri dan anaknya maka itu juga shadaqah baginya. Dimana lafadz shadaqah tersebut berlaku umum, anak laki-aki atau perempuan, sudah menikah atau belum, bahkan jikalau ia adalah seorang anak perempuan yang telah ditalaq oleh suaminya, atau seorang anak perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya.

Selain itu dapat pula diambil faedah tentang pernikahan, yakni ketika utsman bin affan menikah dengan ummu kultsum. Akan tetapi mereka baru saling bertemu 3 bulan setelah ustman bin affan menikahi ummu kultsum. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa tidak mengapa menikah jarak jauh, selama tercukupi syarat-syarat nikahnya.

Terdapat pula faedah mengenai tatacara penguburan jenazah yakni ketika ummu kultsum meninggal dunia. Bahwasanya yang menguburkan jenazah seorang wanita muslimah adalah seorang laki-laki, walaupun itu bukan mahramnya. Sebagaimana ketika rasulullah menyuruh seorang shahabat untuk menguburkan jenazah ummu kultsum. Terdapat pula faedah bahwa seorang wanita muslim tidak boleh datang ke kuburan, baik ketika proses penguburan, atau setelah selesai, atau bahkan sekedar berziarah.

Kisah lengkap mengenai ummu kultsum beserta berbagai faedahnya dapat antum dengarkan pada rekaman kajian, atau bisa antum baca di sini.

FATHIMAH

Fathimah terkenal dengan julukan az zahra, sedang kunyahnya adalah ummu abiha (ibu dari bapaknya). Fathimah menikah dengan ali bin abi thalib. Lalu memiliki anak yakni hasan kemudian husein, yang mana hasan dan husein ini tidak kembar. Fathimah meninggal di usia 27 tahun. Kisah dari putri kelima rasulullah ini adalah kisah yang paling panjang. Dimana al ustadz abu syakir syuhada tidak membahas kisah fathimah radhiyallohu ‘anha pada rekaman ini. Akan tetapi ada dalam kesempatan yang lain yang juga bisa antum download via ilmoe, atau langsung download di sini (sebab saya juga belum mendengarkan : D), dan untuk bacaan, coba baca di sini

ABDULLOH

Abdulloh meninggal saat masih kecil, yang mana abdulloh adalah anak bungsu rasulullah dari khadijah bintu khuwailid.

IBROHIM

Ibrahim adalah putra rasulullah dengan mariah al qibtiyah, lahir di madinah, serta meninggal saat usia 13 bulan. Ketika ibrahim meninggal rasulullah bersabda bahwa sungguh akan ada yang menyusuinya di surga. Hal ini dikarenakan pada saat ibrahim meninggal, masa susuannya masih belum genap. Ibrahim dikuburkan di pekuburan baqi’, yang mana di pekuburan tersebut juga menjadi makam banyak shahabat. Bagi muslim, khusus untuk yang laki-laki, yang sudah menginjak tanah madinah, disunnahkan untuk ziaroh ke pekuburan baqi’ di siang hari. Akan tetapi, jika sengaja diniatkan dari rumah (belum menginjak tanah madinah) untuk ziaroh ke pekuburan baqi’, maka hal itu tidak boleh.

Sebagaimana yang saya sebutkan pada bagian awal tulisan ini, yakni berkaitan dengan nama kunyah. Saya masih sangat sering mendapati saudara seiman yang juga telah memiliki nama kunyah, tapi qadarulloh berkunyah dengan nama anak perempuan, termasuk saya sendiri. Oleh karenanya, marilah kita bangkit dari kubangan kesalahan dengan mengganti nama kunyah kita (bagi yang masih berkunyah dengan nama perempuan. Oleh karenanya, sejak saat ini saya mengganti nama kunyah saya,  dari ummu ruqoyyah menjadi ummu abdillah. Ummu abdillah, nyontek kunyahnya imam ahmad, imam syafi’i, imam malik, dan imam bukhari. Selain itu, saya juga pernah mendengar (atau membaca) bahwa abdillah adalah nama yang terbaik, hanya saja saya belum mencari lagi bagaimana redaksi dari hal tersebut. Jika bertemu, maka insyaa alloh akan saya tambahkan di sini, jika ternyata salah insyaa alloh akan saya revisi (kayak skripsi ae -___-)

Wallohu a’lam.

Alhamdulillah… saya telah selesai menuliskan beberapa faedah yang saya dapatkan dari rekaman kajian al ustadz abu syakir syuhada, walau hanya sekedar hasil download tapi alhamdulillah bermanfaat, dan pasti lebih seru jika mendengarkan secara live. Kita bisa saja ketiduran saat mendengar kajian hasil download’an (o.O) , tapi jika live… rugi deh kalau sampai ketiduran. Ahh dan lagi, tips ampuh agar tidak tidur saat mendengar rekaman ta’lim adalah dengarkanlah sembari antum mencuci baju, lebih afdhol jika cuci baju mesin manual (aka. Ngucek pakai tangan), seriuss… it works! Selamat mencoba…

Apabila antum mendapati kebaikan dari tulisan ini, maka itu datangnya dari Alloh subhanahu wata’ala. Akan tetapi, jika sebaliknya, maka itu datangnya dari saya. Semoga bermanfaat.

Barakallohu fiykum.

sumber rujukan :

http://statics.ilmoe.com/kajian/users/bandung/Kajian-Rutin/Kajian-Tematik/Mengenal_Putra_Putri_Rasulullah_Oleh_Ustadz_Abu_Syakir_Syuhada.mp3.mp3 diakses pada 6 september 2013

http://statics.ilmoe.com/kajian/users/bandung/Kajian-Rutin/Kajian-Tematik/Mengenal_Putri_Rasulullah_Fathimah_Az_Zahrah_Oleh_Ustadz_Abu_Syakir_Syuhada.mp3 diakses pada 6 september 2013

http://ahlulhadist.wordpress.com/ diakses pada 14 september 2013

About ummu malikah

seorang istri, dan seorang ibu. saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat pada para pembaca.

tiggalkan kritik dan saran antum

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s